Link Logo Resmi NU

Berikut adalah Link logo NU yang resmi yang dimuat dalam Peraturan Organisasi (PO) NU 2012. Dengan adanya penetapan lambang ini diharapkan tidak terjadi kesimpangsiuran dalam membuat dan menggunakan lambang NU yang tanpa standar dan tanpa aaturan, masing-masing daerah saling berbeda dalam membuat lambang. Sama sekali belum ada keseragaman dan kekompakan.

Logo Resmi Formal: http://www.4shared.com/photo/32W7zPPuce/1_Logo_Resmi_Formal.html

Logo Resmi Informal: http://www.4shared.com/photo/ezDclqlbba/2_Logo_Resmi_Informal.html

Logo Resmi Informal transparan: http://www.4shared.com/photo/QmnuxRp0ce/2_Logo_Resmi_Informal__transpa.html

Advertisements

Logo Resmi NU (Untuk Informal)

Logo Resmi NU (Untuk Informal)

Lambang Resmi NU Informal : warna dasar warna cerah, dengan simbol warna gelap. Lambang informal ini digunakan untuk pembuatan back drop, sepanduk, stiker, dan lain sebagainya

Image

Logo Resmi NU (Untuk Formal)

Logo Resmi NU (Untuk Formal)

Lambang Resmi NU Formal; berwarna dasar hijau dengan simbol NU berwarna putih. Lambang resmi formal ini digunakan untuk membuat papan nama, kop surat, bendera, blok note dan lain sebagainya.

Image

Qasidah al-Hujriyyah (القصيدة الحجرية)

Qasidah ialah rangkaian bait syair yang terdiri dari 10 bait lebih. Qasidah al-Hujriyyah disusun oleh seorang sultan dari dinasti Ottoman (Utsmaniyyah) yang begitu besar kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Beliaulah Sultan Abdul Hamid I (wafat tahun 1789 M), penguasa dinasti Utsmaniyyah yang ke-27 yang naik tahta pada tahun 1774 M menggantikan saudaranya sendiri, Sultan Mustofa III, yang telah wafat mendahuluinya.

Qasidah ini menggunakan bahr basith dengan mathla’ atau awal qasidah adalah kalimat seruan memanggil-manggil sang rasulullah. Anda dapat menyimak sebagian qasidah ini yang dilantunkan oleh majelis rasulullah pimpinan al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa:

Bagi anda yang ingin lebih menghayati qasidah ini maka berikut adalah syair, terjemah dan sedikit keterangan tambahannya. Semoga bermanfaat.

يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ *** مَا لِيْ سِوَاكَ وَلاَ أَلْوِيْ عَلَى أَحَدِ

فَأَنْتَ نُوْرُ الْهُدَى فِيْ كُلِّ كَائِنَةٍ *** وَأَنْتَ سِرُّ النَّدَى يَا خَيْرَ مُعْتَمَدِيْ

وَأَنْتَ حَقًّا غِيَاثُ الْخَلْقِ أَجْمَعِهِمْ *** وَأَنْتَ هَادِي الْوَرَى للهِ ذِي السَّدَدِ

Ya Sayyidi Ya Rosulallahi Khudz biyadi *** Maa Lii Siwaaka walaa Alwi ‘ala ahadi

Fa anta Nuurul Huda fii kulli Kaa’inatin *** Wa anta Sirrun Nadaa Ya Khairo Mu’tamadii

Wa Anta Haqqon Ghiyyaatsul Kholqi Ajma’ihim *** More

Syarah Burdah (001-002)

Berikut ini adalah bait pertama dan kedua dari Qasidah Burdah:

أمن تذكر جيران بذي سلم  # مزجت دمعا جرى من مقلة بدم

[A min tadzakkuri jiironin bidzii salami # mazajta dam’an jaroo min muqlatin bidami]

Apakah karena teringat tetangga di Dzi Salam sehingga air matamu kau campuri darah?

أم هبت الريح من تلقاء كاظمة # وأومض البرق في الظلماء من إضم

[Am habbatir riihu min tilqoo’i Kaazhimatin # Wa awmadlol barqu fizh zholmaa’i min idlomi]

Ataukah karena hembusan angin dari arah Kazhimah? ataukah munculnya kilatan petir di kala gelap dari langit Idlom?

Nazhim atau orang yang menyusun bait syair, dalam hal ini adalah Syekh Muhammad bin Said Al-Bushiri, tidaklah mengawali qasidah-nya dengan basmalah ataupun hamdalah. Meski memulai sesuatu dengan kedua hal tersebut adalah hal bagus dan utama, tetapi tidak demikian dalam bait-bait syair.  Kebiasaan penyair Arab saat itu adalah More

Abah KH Najib Salimi (1971-2011)

Nama lengkap beliau adalah Najib Mambaul Ulum, putra kedua dari KH Salimi, pengasuh PP A-Salimiyyah Cambahan Nogotirto Gamping Sleman.

Beliau dilahirkan pada Selasa Pon 5 Januari 1971 di daerah Mlangi, sebuah perkampungan di Sleman dimana terdapat makam leluhur beliau yaitu Mbah Nur Iman.

Beliau beristrikan satu orang, yaitu Hj Siti Chamnah, putri dari KH  Khudlori, pengasuh PP Al-Anwar Ngrukem Sewon Bantul. Beliau dikaruniai tiga orang anak, yaitu Muhammad Abdullah Falah, Muhammad Alwy Masduq, dan Abdah Iqtada.

KH Najib Salimi mendapatkan pendidikan agama pertama kali dari keluarga beliau yang notabene adalah keluarga pesantren. Ayah beliau adalah seorang kyai kharismatik di Mlangi. Ibu beliau adalah Nyai Hj. Bunyanah, putri Mbah Kyai Masduqi. Kemudian beliau menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang di bawah asuhan KH Abdurrhaman Chudlori dan KH Ahmad Muhammad Chudlori.

Selama 11 tahun KH Najib Salimi mengasuh PP Al-Luqmaniyyah Yogyakarta. Beliau meninggalkan dunia More

Memaknai Cinta Sejati (Bag. III)

Frase judul tulisan ini memuat 3 kata, yaitu kata makna yang mendapat imbuhan me-i, cinta, dan kata sejati. Ketiga kata tersebut memiliki pengertiannya masing-masing, yang mungkin bisa disebut sebagai makna. Jadi, makna punya makna, cinta punya makna, dan sejati punya makna. Sudahlah.

Cinta Tuhan kepada makhlukNya. Pertanyaannya, apakah Tuhan memiliki cinta, ataukah benci? Apakah Tuhan memasukkan seseorang ke dalam Surga karena cinta dan memasukkan orang lain ke dalam neraka karena ia benci? Andai saja Tuhan punya cinta dan benci seperti itu, tentunya bukan benar-benar Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan bisa berada dalam ruang dan waktu, sehingga bisa sekarang cinta dan besok benci sebagaimana kita. Jadi, saya kira Tuhan tak punya cinta dan tak pula punya rasa benci sebagaimana yang digambarkan tadi. Makna cinta bagiNya saya kira adalah wujudnya pemberian kepada makhlukNya yang Dia hendaki pada zaman azali. Sebaliknya, mungkin makna benci dan marah adalah wujudnya siksa yang Dia kehendaki. Dari sinilah mungkin lebih tepat ketika dikatakan bahwa penyebutan cinta bagi Tuhan adalah metaforis.

Kalau cinta identik dengan memberi, dengan kata lain bahwa cinta adalah memberi, dan saling mencintai adalah saling memberi, maka layaklah bahwa Tuhan punya cinta. Bahkan, pemberian Tuhan sama sekali tidak karena pamrih, bahkan tidak pula untuk sekedar menghilangkan rasa susah karena cinta yang tak terekspresikan. Bahkan, pemberian Tuhan bukan karena More

Previous Older Entries