<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kang IR [ Individual Reviews ]</title>
	<atom:link href="http://irfanantono.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irfanantono.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 06:31:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irfanantono.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kang IR [ Individual Reviews ]</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irfanantono.wordpress.com/osd.xml" title="Kang IR [ Individual Reviews ]" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irfanantono.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Abah KH Najib Salimi (1971-2011)</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2011/10/14/abah-kh-najib-salimi-1971-2011/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2011/10/14/abah-kh-najib-salimi-1971-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 00:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[abah najib]]></category>
		<category><![CDATA[elqi]]></category>
		<category><![CDATA[luqmaniyyah]]></category>
		<category><![CDATA[najib salimi]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pplq]]></category>
		<category><![CDATA[video kenangan kh najib salimi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Nama lengkap beliau adalah Najib Mambaul Ulum, putra kedua dari KH Salimi, pengasuh PP A-Salimiyyah Cambahan Nogotirto Gamping Sleman. Beliau dilahirkan pada Selasa Pon 5 Januari 1971 di daerah Mlangi, sebuah perkampungan di Sleman dimana terdapat makam leluhur beliau yaitu Mbah Nur Iman. Beliau beristrikan satu orang, yaitu Hj Siti Chamnah, putri dari KH  Khudlori, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=270&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://irfanantono.files.wordpress.com/2011/10/dsc05794.jpg"><img class="size-medium wp-image-272 alignleft" title="Almarhum Almaghfurlah KH Najib Salimi" src="http://irfanantono.files.wordpress.com/2011/10/dsc05794.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>Nama lengkap beliau adalah Najib Mambaul Ulum, putra kedua dari KH Salimi, pengasuh PP A-Salimiyyah Cambahan Nogotirto Gamping Sleman.</p>
<p>Beliau dilahirkan pada Selasa Pon 5 Januari 1971 di daerah Mlangi, sebuah perkampungan di Sleman dimana terdapat makam leluhur beliau yaitu Mbah Nur Iman.</p>
<p>Beliau beristrikan satu orang, yaitu Hj Siti Chamnah, putri dari KH  Khudlori, pengasuh PP Al-Anwar Ngrukem Sewon Bantul. Beliau dikaruniai tiga orang anak, yaitu Muhammad Abdullah Falah, Muhammad Alwy Masduq, dan Abdah Iqtada.</p>
<p>KH Najib Salimi mendapatkan pendidikan agama pertama kali dari keluarga beliau yang notabene adalah keluarga pesantren. Ayah beliau adalah seorang kyai kharismatik di Mlangi. Ibu beliau adalah Nyai Hj. Bunyanah, putri Mbah Kyai Masduqi. Kemudian beliau menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang di bawah asuhan KH Abdurrhaman Chudlori dan KH Ahmad Muhammad Chudlori.</p>
<p>Selama 11 tahun KH Najib Salimi mengasuh PP Al-Luqmaniyyah Yogyakarta. Beliau meninggalkan dunia yang fana ini pada Malam Jumat legi 30 September 2011 setelah sebelumnya mengalami kecelakaan mobil di Kudus 5 hari sebelumnya. Banyak sekali tanda-tanda kebaikan yang menyertai kepergian beliau ke alam baka. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Masjid Jami Mlangi sebagaimana leluhur beliau. Allahu yaghfiru lahum wa yarhamuhum.</p>
<p>Abah, kami akan mengenang kasih sayang dan kemurahan hatimu. Terima kasih atas segala tarbiyah yang engkau curhakan untuk kami. Semoga Allah senantiasa merahmatimu hingga bertemu dengan-Nya kelak di Surga. Aamiin..</p>
<p>Nb: Unduh beberapa pengajian beliau di halaman <a title="Klik di sini" href="http://irfanantono.wordpress.com/download/">DOWNLOAD</a></p>
<p>Lihat video penghormatan terakhir : <a href="http://www.youtube.com/watch?v=8YaX63kQ1eA">Video Kenangan Almarhum Almaghfurlah KH Najib Salimi</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=270&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2011/10/14/abah-kh-najib-salimi-1971-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irfanantono.files.wordpress.com/2011/10/dsc05794.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Almarhum Almaghfurlah KH Najib Salimi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Cinta Sejati (Bag. III)</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2011/07/06/memaknai-cinta-sejati-bag-iii/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2011/07/06/memaknai-cinta-sejati-bag-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 00:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Frase judul tulisan ini memuat 3 kata, yaitu kata makna yang mendapat imbuhan me-i, cinta, dan kata sejati. Ketiga kata tersebut memiliki pengertiannya masing-masing, yang mungkin bisa disebut sebagai makna. Jadi, makna punya makna, cinta punya makna, dan sejati punya makna. Sudahlah. Cinta Tuhan kepada makhlukNya. Pertanyaannya, apakah Tuhan memiliki cinta, ataukah benci? Apakah Tuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=254&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Frase judul tulisan ini memuat 3 kata, yaitu kata makna yang mendapat imbuhan me-i, cinta, dan kata sejati. Ketiga kata tersebut memiliki pengertiannya masing-masing, yang mungkin bisa disebut sebagai makna. Jadi, makna punya makna, cinta punya makna, dan sejati punya makna. Sudahlah.</p>
<p>Cinta Tuhan kepada makhlukNya. Pertanyaannya, apakah Tuhan memiliki cinta, ataukah benci? Apakah Tuhan memasukkan seseorang ke dalam Surga karena cinta dan memasukkan orang lain ke dalam neraka karena ia benci? Andai saja Tuhan punya cinta dan benci seperti itu, tentunya bukan benar-benar Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan bisa berada dalam ruang dan waktu, sehingga bisa sekarang cinta dan besok benci sebagaimana kita. Jadi, saya kira Tuhan tak punya cinta dan tak pula punya rasa benci sebagaimana yang digambarkan tadi. Makna cinta bagiNya saya kira adalah wujudnya pemberian kepada makhlukNya yang Dia hendaki pada zaman azali. Sebaliknya, mungkin makna benci dan marah adalah wujudnya siksa yang Dia kehendaki. Dari sinilah mungkin lebih tepat ketika dikatakan bahwa penyebutan cinta bagi Tuhan adalah metaforis.</p>
<p>Kalau cinta identik dengan memberi, dengan kata lain bahwa cinta adalah memberi, dan saling mencintai adalah saling memberi, maka layaklah bahwa Tuhan punya cinta. Bahkan, pemberian Tuhan sama sekali tidak karena pamrih, bahkan tidak pula untuk sekedar menghilangkan rasa susah karena cinta yang tak terekspresikan. Bahkan, pemberian Tuhan bukan karena <span id="more-254"></span>orang yang diberi memang membutuhkan. Tuhan yang membuatnya membutuhkan sesuatu dan Tuhan pulalah yang memberikan pemenuhan kebutuhannya. Tuhan memang dibutuhkan oleh selain-Nya sedangkan Ia tak butuh kepada selain-Nya. Itulah Tuhan. Seorang ibu memang punya cinta kepada anaknya yang kecil. Akan tetapi, seandainya ia tak mengekspresikannya maka ia akan merasa susah hati. Cinta merupakan kebutuhan bagi si ibu.</p>
<p>Cinta makhluk adalah cinta yang egois, yaitu cinta yang memang menjadi kebutuhan bagi si pemilik cinta. Saling mencintai adalah bentuk kerjasama untuk saling memenuhi kebutuhan. Bahagia karena cinta adalah karena kebutuhan yang terpenuhi. Kesedihan karena cinta adalah karena kebutuhan yang tak terpenuhi.</p>
<p>Jadi, apakah Tuhan punya cinta? Yang jelas, ia punya Kekuasaan, Kehendak, dan Pengetahuan. Kekuasaan-Nya meliputi segala yang mungkin ada. Ia wujudkan makhluk dengan kekuasaan-Nya. Ia wujudkan apa yang Ia kehendaki. Tiada satupun yang ada tanpa Ia kehendaki. Pengetahuannya meliputi segala yang pasti ada, mungkin ada, dan juga yang tak mungkin ada. Pengetahuannya tak didahului dengan ketidaktahuan, bahkan tidak karena berproses dalam ruang dan waktu sebagaimana kita. Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Ia-lah Yang Satu, Yang Menciptakan segala sesuatu. ^-^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=254&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2011/07/06/memaknai-cinta-sejati-bag-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sadar Cinta</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2011/07/06/sadar-cinta/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2011/07/06/sadar-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 23:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Namanya begitu dalam terukir di hati. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa dapat mencintainya. Dari sekian banyaknya wanita cantik yang kulihat, maka ia adalah yang tercantik di antara mereka. Senyumnya luar biasa indahnya, seolah mampu menghentikan detak jantung selama sekian detik. Ooh, ia begitu elok dan menggemaskan ketika dipandang. Tatap sendu kesedihan yang kadang muncul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=256&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namanya begitu dalam terukir di hati. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa dapat mencintainya. Dari sekian banyaknya wanita cantik yang kulihat, maka ia adalah yang tercantik di antara mereka. Senyumnya luar biasa indahnya, seolah mampu menghentikan detak jantung selama sekian detik. Ooh, ia begitu elok dan menggemaskan ketika dipandang.<br />
Tatap sendu kesedihan yang kadang muncul dari matanya sungguh tak sempat membuatku untuk bersabar. Aku sedih setiap kali melihatnya seperti itu. Lebih sedih lagi ketika ia berusaha menutupi kesedihannya di balik tubuh orang-orang. Ia sembunyi dariku. Entah kenapa. Ketika ku tanya apa yang telah menimpanya, ia selalu terdiam menutup segalanya. Ia membuatku semakin galau dan khawatir akan dirinya, dua hal yang<span id="more-256"></span> membuatku seolah tak mampu berhenti untuk semakin mencintainya.<br />
Namun, apa yang dapat kulakukan. Ia selalu saja memintaku untuk mencintai orang lain saja. Aku tak pernah tahu apa ia benar-benar tak menerimaku ataukah hanya sekedar mengujiku saja. Hati ini serasa begitu yakin bahwa ada ruang untukku dalam hatinya. Tapi apa yang dapat kulakukan, ia selalu menunjukkan hal yang sama ketika ku mulai mengeluarkan kata pengharapan untuknya.<br />
Aku ingin memilikinya, bersama mengisi kehidupan dunia yang fana dan pasti berakhir. Aku ingin hidupku bernilai tinggi dengannya. Aku begitu yakin dengan apa yang kurasakan dari hatinya. Tetapi, aku berbalik ragu setelah mendengar ungkapan-ungkapannya. Ia seolah tak menerimaku, menolakku dengan halus kata. Tak ayal lagi, akupun merasa kandas. Aku curiga dengan perasaanku sendiri. Aku berusaha lebih percaya dengan apa yang ia katakan daripada apa yang kurasakan.<br />
Tak hanya sekali ini ku merasa kandas. Aku selalu saja tak bisa mengalihkan hatiku pada selainnya. Berkali-kali ku menyampaikan asaku kepadanya, berkali-kali pula aku memperolah jawaban yang sama. Andai saja ada yang bertanya padaku apakah aku pernah patah hati, maka ia akan mendapatkan jawaban yang unik dari lainnya. Aku mengalami berkali-kali patah hati, dari satu orang wanita saja.<br />
Ooh tidak, harusnya bukan patah hati yang kusebutkan. Kurasa ia hanya tak ingin menjalin cinta denganku. Ia enggan untuk memenuhi apa yang kuharapkan darinya. Aku ingin ia mencintaiku dan bersama mengisi dunia.<br />
Ia bilang ia merasa tak pantas untuk bersanding dengan orang sepertiku. Ia merasa rendah. Apa ini, kadang aku berfikir dan ingin menyampaikan padanya bahwa aku tak setinggi apa yang ia sampaikan padaku. Sesekali aku pun merasa curiga dan ingin menyampaikan padanya bahwa aku tak serendah apa yang ia lihat dan tak sampaikan. Aku berusaha menghilangan prasangka buruk terhadapnya. Ia hanya tak ingin menjalin cinta denganku.<br />
Aaah, keindahan yang kulihat itu adalah karena cinta. Begitu juga kesedihan, kegalauan, kekhawatiran, pengharapan, curiga, dan prasangka, semua itu bersamaan dengan cinta. Kenapa aku tak mencoba saja untuk mencintai orang lain. Entahlah, yang jelas, Allah berkuasa atas segala sesuatu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=256&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2011/07/06/sadar-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Cinta Sejati (Bag. II)</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2010/06/16/memaknai-cinta-sejati-bag-ii/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2010/06/16/memaknai-cinta-sejati-bag-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 09:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian pembaca mungkin kecewa karena di tulisan pertama saya sekedar cuap-cuap tak jelas kaitannya dengan tema tulisan. Mereka mungkin menganggap saya telah mempermainkan mereka. Seolah baru mencium aroma tak sedap dari makanan di hadapannya, mereka enggan untuk menyantapnya. Mereka tak sedikitpun tertarik untuk mengikuti seri berikutnya. Jangankan di seri kedua ini, baru satu atau dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=250&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian pembaca mungkin kecewa karena di tulisan pertama saya sekedar cuap-cuap tak jelas kaitannya dengan tema tulisan. Mereka mungkin menganggap saya telah mempermainkan mereka. Seolah baru mencium aroma tak sedap dari makanan di hadapannya, mereka enggan untuk menyantapnya. Mereka tak sedikitpun tertarik untuk mengikuti seri berikutnya. Jangankan di seri kedua ini, baru satu atau dua alinea dari seri pertama saja mungkin mereka telah bergegas meninggalkan si penceramah tanpa suara itu. Maklum, selera orang berbeda-beda.<br />
Saya cukup bersyukur karena orang-orang seperti di atas telah memberikan perhatiannya dengan meluangkan waktu untuk menghirup aroma tulisan. Sebagian lagi ada yang sama sekali tak melirik isinya. Hanya tahu dari judulnya saja mereka enggan untuk membacanya. Bahkan, mungkin ada lagi yang lebih menafikan wujud sang tulisan walau sekedar judul. Mereka sudah enggan hanya karena tahu siapa pencipta tulisan yang termaktub itu.<br />
Namun, tentunya ada orang yang beruntung karena sudah melangkahkan kaki fikirnya hingga sejauh ini. Mereka adalah orang-orang yang beruntung karena diberi kesempatan menyimak yang tersurat bahkan hingga menyibak yang tersirat dari tulisan-tulisan saya. Tentu saja mereka beruntung karena saya khusus mendoakan mereka semoga mendapatkan sesuatu yang berharga, apapun itu.<br />
Nah, sebelum mereka kecewa karena terlalu lama berbasa-basi, alangkah baiknya jika segera tampak tanda yang mengarah pada tema. Tentu saya takkan berniat mengecewakan mereka dengan hanya menampilkan judul yang diduga –<em>dugaan juga</em>- cukup menarik untuk disimak saja tanpa ada isi yang sesuai. Yang jelas, <span id="more-250"></span>kalaupun mereka kecewa karena hasil akhirnya tak memuaskan , saya tak cukup peduli. Saya peduli ketika tulisan ini masih dalam prosesnya, yaitu dengan misi jangan sampai hasil akhir mengecewakan. Tapi, apa daya jika hasilnya mengecewakan, walaupun tidak seluruhnya.<br />
Ditanya tentang referensi alias rujukan tulisan, saya nyatakan bahwa tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah menuntut pertanggungjawaban secara ilmiah pula –<em>kurang tahu seperti apa bentuknya</em>-. Bukan karena tak mampu memikul tanggung jawab, tapi memang bukan selera saya dan juga bukan niatan saya untuk membuatnya. Lagipula, saya sadar sepenuhnya bahwa saya manusia historis yang berproses hingga mengakumulasikan pandangan dan gaya orang lain dalam benak saya. Bukan tulisan ilmiah, lalu, tulisan jenis apa? Sastrakah? Saya malu untuk memastikannya. Yang jelas biarkanlah hamba menari-nari di atas liarnya hasrat untuk mengungkapkan gagasan. Berarti, tulisan liar? Saya tak mau disebut demikian, karena liar dalam Bahasa Inggris berarti pembohong. Saya selalu berusaha bersikap jujur bahkan dalam urusan cinta. Jadi, tolong jangan berhenti di sini hanya karena perkataan pakar bahwa tulisan yang baik adalah yang ringkas dan padat, tidak basa basi.<br />
Maklum, bahasa telah menyederhanakan segala-galanya dengan menjadi penanda. Ia memang merefleksikan realitas yang ada, tapi saya rasa bahwa ia telah menjerumuskan segalanya dalam perangkap kesamaran dan ambiguitas. Bagaimana bahasa merefleksikan Tuhan yang kita yakini ada? Telah maklum bahwa penggambaran Tuhan oleh manusia lebih banyak dengan bahasa metafora, yang tak pernah sepenuhnya jelas. Jangankan menggambarkan Tuhan, bahkan bahasa –<em>katanya</em>- tak mampu sepenuhnya menampilkan penanda akan makna cinta sejati.<br />
Kalau anda berfikir saya masih berbasa-basi, maka saya mohon maaf. Saya hanya ingin memberi permisalan bahwa pencarian makna cinta sejati membutuhkan proses yang bisa jadi cukup lama tergantung kemampuan kita.<br />
Cinta sejati adalah term yang ringkas dengan isi yang padat. Ucapan terima kasih saya sampaikan untuk bahasa karena telah melakukannya untuk kita. Kita patut bersyukur karena mendapatkan sesuatu. Realita yang ada ini, andai saja lautan dijadikan tinta untuk menuliskannya, sungguh ia akan habis sebelum mampu menggambarkan seluruhnya. Jadi, jangan pernah kecewa karena tak mendapatkan seluruhnya, dan juga jangan pernah berhenti untuk berusaha mendapatkan seluruhnya, walau hanya sebagian yang didapatkan. <em>Ma La Yudrak Ba&#8217;dluh, La Yutrak Kulluh</em>, apa yang tak bisa didapatkan sebagiannya hendaknya tidak ditinggalkan seluruhnya. Kira-kira begitu kata ahli kaidah fikih -<em>kalau gak salah</em>-.<br />
Cinta sejati bukanlah basa-basi. Siapapun boleh memaknainya dengan apa yang ia temukan. Jadi, biarkan saja cinta sejati menjadi tanda dengan berjuta-juta makna sesuai hitungan orang yang memaknainya.<br />
Kembali ke cinta sejati. Ada yang menyatakan bahwa cinta sejati hanya layak dinisbatkan kepada Sang Pencipta. Benarkah demikian? Muncul pernyataan, mana yang sejati, cinta Tuhan kepada hamba-Nya ataukah cinta hamba kepada Tuhannya? Manakah yang sekedar metafora, cinta milik Tuhan ataukah cinta milik hamba? Pertanyaan semacam ini yang mungkin dapat mengakhiri basa-basi tulisan ini –kalau dianggap demikian-, untuk kemudian masuk bahasan yang sesuai dengan tema.<br />
Berakhir? Belum. Masih ada sambungannya, Insya Allah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=250&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2010/06/16/memaknai-cinta-sejati-bag-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Cinta Sejati</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2010/06/02/memaknai-cinta-sejati/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2010/06/02/memaknai-cinta-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 06:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Saya barusan membaca sms seorang teman. Sms tersebut sudah lama sekali tinggal di inbox ponsel saya. Saya membaca kembali sms tersebut. Ternyata, saya memahami hal yang baru dari sms tersebut, sesuatu yang belum saya fahami ketika saya membacanya untuk pertama kalinya. Saya melakukan usaha penafsiran ulang, dan ternyata apa yang saya fahami saat pertama kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=247&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya barusan membaca sms seorang teman. Sms tersebut sudah lama sekali tinggal di inbox ponsel saya. Saya membaca kembali sms tersebut. Ternyata, saya memahami hal yang baru dari sms tersebut, sesuatu yang belum saya fahami ketika saya membacanya untuk pertama kalinya. Saya melakukan usaha penafsiran ulang, dan ternyata apa yang saya fahami saat pertama kali bukan hal yang mutlak. Nyatanya, sekarang saya memahami sesuatu yang lain, yang bisa jadi jauh dari penafsiran awal. Mungkin ini sama halnya ketika kita membaca kitab suci atau buku lainnya, selalu saja mungkin ada hal baru yang kita dapati.</p>
<p>Begitu juga ketika kata &#8216;cinta sejati&#8217; dimunculkan. Mungkin, orang akan menganggap tulisan semacam ini sudah basi &#8211; ini dugaan saya -. Banyak pujangga yang bicara tentang hal itu. Lalu siapa saya yang bukan pujangga<span id="more-247"></span> dan juga pengamat cinta. Mungkin, orang akan mengacuhkan tulisan semacam ini. Emang siapa yang nulis. Padahal, sangat mungkin ada hal baru yang tertulis di sini. Atau paling tidak, ketika seseorang membaca tulisan ini, ia akan memperoleh penafsiran baru tentang cinta sejati.</p>
<p>Tulisan semacam ini pun tentunya takkan lepas dari khasanah tulisan yang telah ada. Bisa jadi ada hubungan intertekstualitas &#8211; <em>apa maning kiye</em>-. Bisa jadi, ada hal lama milik tulisan sebelum ini. Hal ini wajar karena kita hidup bersifat historis, melanjutkan sejarah yang telah berjalan lama. Bolehlah kitab suci bicara tentang cinta, Shakespeare, Umr al-Qais, Khalil Gibran, Rendra, Bushiri, Syauqi, Ibnul Qayyim, ataupun pujangga-pujangga lainnya. Apa salahnya jika saya pun berbicara tentang itu.</p>
<p>Paling tidak, ada orang yang mengenal baik saya dan kehidupan saya yang mungkin penasaran dan ingin tahu bagaimana saya memaknai cinta sejati. Mereka tidak mencari makna itu, bisa jadi mereka hanya akan memaknai saya sebagai penulisnya, bukan tulisan saya. Atau, mungkin ada pula yang membangun konsep cinta sejati menurut dirinya sendiri. Banyak kemungkinan.</p>
<p>Bahkan tulisan semacam ini takkan final untuk meraih makna hakiki cinta sejati. Tulisan bisa terhenti, tapi pencarian makna takkan berhenti. Sejarah akan menuliskan dirinya.</p>
<p>Oleh karenanya, &#8230;.</p>
<p>(tulisan pembuka) &#8230;<em> bersambung&#8230;</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=247&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2010/06/02/memaknai-cinta-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isyarat Cinta</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2010/05/22/isyarat-cinta/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2010/05/22/isyarat-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 01:32:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini, setelah semalam tertidur diantar bacaan tentang semiotika lalu listrik mati mencipta gelap lalu terbangun pukul tiga sadar tuk tunaikan isya lalu makan seadanya lalu tidur hingga pukul lima lalu bangun shalat shubuh, setelah shalat shubuh, aku terduduk seperti biasa dengan niatan mengamalkan wirid. Alam ini sudah cukup terang untuk bisa disebut pagi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=242&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini, setelah semalam tertidur diantar bacaan tentang semiotika lalu listrik mati mencipta gelap lalu terbangun pukul tiga sadar tuk tunaikan isya lalu makan seadanya lalu tidur hingga pukul lima lalu bangun shalat shubuh, setelah shalat shubuh, aku terduduk seperti biasa dengan niatan mengamalkan wirid. Alam ini sudah cukup terang untuk bisa disebut pagi yang cerah. Suara lantunan tikroran imrithi terdengar nyaring saling bersahutan. Mereka, lelaki dan perempuan, tampak begitu bersemangat mengawali hari ini. Tampaknya, kelelahan hari kemarin tak membekas di pagi ini.</p>
<p>Namun,  keceriaan mereka tampaknya bukan hal yang membuatku senang. Padahal, suara nyaring mereka tampaknya sama sekali mengganggu puluhan santri lainnya yang berniat melewatkan pagi cerah ini dengan skorsing kesadaran alias tidur. Suara nyaring mereka membuyarkan konsentrasiku melafalkan fatihah dan ayat kursi. Memang, lisan ini terus komat kamit, tetapi hati dan fikiran ini amit-amit, malah sepertinya gambar demit. he2. Kurang tahu sudah berapa kali aku membacanya, padahal aku hanya menuntut hanya tiga kali saja. Sebenarnya, aku sepenuhnya sadar bahwa bukan suara nyaring itu yang membuat bacaan jadi kering, tetapi <span id="more-242"></span>memang aku sedang pusing. Bingung yang kurasakan pagi ini tadi adalah bingung murokkab (bersusun), bingung dan tidak tahu apa yang sedang dibingungkan.</p>
<p>Di saat kebingungan bermarkas di hati dan fikiran inilah badan ini serasa tak bertuan. Namun, sungguh baik sang lisan masih mau bermesraan, berdzikir walau tanpa teman. Seharusnya memang hati selalu setia menemaninya, tetapi tampaknya hati sedang egois dan tak tahu aturan.  Mata pun seperti bingung mencari sasaran hingga akhirnya tertuju pada sebuah buku catatan.</p>
<p>Buku tulis itu produk dari Sinar Dunia. Gambar sampulnya mungkin tak cukup menarik perhatian. Tetapi, ada sebuah tulisan di sana, &#8220;Never wait until tomorrow things that you can do today, &#8217;cause if you do that, you&#8217;ll only add new problems everyday without solving it&#8221;.</p>
<p>Mata tertegun, lisan terhenti, hatipun tersentak. Tidak hanya karena tulisan di buku itu, tetapi sebuah tulisan lain di buku lainnya. &#8220;My Lovely friend, we wish you a happyday sincerely&#8230;. Wish you a beautiful day !&#8221;</p>
<p>Ala Ya Allah, aku seperti diingatkan oleh seseorang yang kadang hati ini dipenuhi namanya, lisan ini disibukkan menyebutnya, fikiran ini dibuat pusing karena berfikir wujudnya. Seketika itu, aku seperti diguyur air dingin di tengah kepanasan. Cerahnya pagi ini akhirnya memperlihatkan wujudnya pada makhluk satu ini.</p>
<p>Aku harus segera bangkit, bersyukur karena peroleh isyarat cinta.</p>
<p>Semangat !!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=242&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2010/05/22/isyarat-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amalan Ampuh</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2010/04/17/amalan-ampuh/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2010/04/17/amalan-ampuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 05:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adabiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Islamiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[ngapak]]></category>
		<category><![CDATA[wirid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf, lama tak bersua, bersua pun refleksi kangen omah. Bapa mbiyen tau nglarang anake belajar pencak nganggo alasan sing lumayan unik. Jare bapa Man Rakyat ora belajar pencak be laka sing ngaproki kaa. Iya ta iya. Kiyaine juga pernah ngomong angger pan nggolet amalan kebal geni, ge aja nggolet amalan kebal geni sing nang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=239&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon maaf, lama tak bersua, bersua pun refleksi kangen omah.</p>
<p>Bapa mbiyen tau nglarang anake belajar pencak nganggo alasan sing lumayan unik. Jare bapa Man Rakyat ora belajar pencak be laka sing ngaproki kaa. Iya ta iya.</p>
<p>Kiyaine juga pernah ngomong angger pan nggolet amalan kebal geni, ge aja nggolet amalan kebal geni sing nang ndunya. Angger bisa, goleta amalan kebal geni neraka. Dadi ya kuwe sing luwih ampuh.</p>
<p>Terus wingi-wing nyong kayong rada mikir. Ya bukane ndisit ora tau mikir. Tapi, wingi kayong ana sing anyar terlintas. Gara-garane sepele. Pas lagi njegong nang warung, nang ngarepe nyong ana wong wadon ayu nemen. Biasa lah, arane cah lanang, ya pengin weruh lha yaa. <span id="more-239"></span>Padahal nang ngarep persis cuma beda meja. Lagi semangat-semangate pengin ngematna eh jebule ibune marani ngaling-ngalingi. Yakin sung, malah sing dideleng rambute ibune wadon mau. Si wadon ketutupan. Pikirku, walah-walah pengin ndableg setitik be kayong ora bisa. Tapi ya aku nembe sadar, lha aku ya kadang ndongane pengin didohi seka ngelakoni kaya kuwe mau kok. Tapi ya namane sadar mburi lah yaa.</p>
<p>Aku mikir, misale ana wong loro pada-pada ngamalna amalan kebal clurit. olihe bisa beda. sing siji bisa bae diclurit uwong terus bisa kebal ora papa, lan sijine bisa bae misale ndilalah laka uwong sing nylurit. Intine pada, selamat dari clurit.</p>
<p>Pada-pada ngamalna amalan kebal geni neraka, misale. Bisa bae misale sing siji mlebu neraka tapi kebal oara panasen, nah sing siji blas ora mlebu neraka.</p>
<p>Kadang dewek rumangsane pengine weruh sing aneh-aneh, padahal angger dewek sadar pengeran ki ya wis ngei sing terbaik nggo dewek.</p>
<p>Kadang dewek istikhoroh pengine dingai isyarat melalui ngimpi. rumangsane angger nganggo ngimpi ki sing paling pas. Padahal, bisa bae misale bar istikhoroh terus langsung dingai mantep nang salah siji pilihan.</p>
<p>Kadang ngamalna sesuatu kayong ora yakin karo apa sing dingai pengeran. Bisa bae koen kiye dingai sesuatu sing koen ora nyadar. Ya kaya contoh-contoh mau lah.</p>
<p>wong sing biasa ngamalna sesuatu terus-terusan, iku sing ampuh, nah kapan waktune mesti ana jatah sing dikei. maksud jatah bisa berupa dua hal, yaiku peluang dan coba sing mantesi karo amalan mau.</p>
<p>Dadi, ra sah ngomong semisal kaya kiye : Asem, aku wis puasa senen kemis terus ka kayong laka pengaruhe.</p>
<p>wallahu a&#8217;lam wis&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=239&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2010/04/17/amalan-ampuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gayane ngGaplek Hermeneutik (GAGAHE)</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2009/12/16/gayane-nggaplek-hermeneutik/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2009/12/16/gayane-nggaplek-hermeneutik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 03:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[hermeneutika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[sekali lagi&#8230; laisa uslubi adabiyyan wala &#8216;ilmiyyan walakinnahu mbuh lah asal-asalan asal naf&#8217;an.. dari makalah kampus: HERMENEUTIKA Pengantar Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka. Mereka semakin menyadari bahwa persoalan-persoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa. Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=235&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sekali lagi&#8230; laisa uslubi adabiyyan wala &#8216;ilmiyyan walakinnahu mbuh lah asal-asalan asal naf&#8217;an.. dari makalah kampus:</p>
<p><strong>HERMENEUTIKA</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pengantar</strong><strong> </strong></p>
<p>Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka. Mereka semakin menyadari bahwa persoalan-persoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa. Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika yang ketat sebagaimana dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis. Hal inilah yang kemudian memunculkan pemikiran filsafat bahasa biasa yang berupaya memecahkan problema-problema filsafat dan membahas konsep-konsep filsafat dengan melalui suatu analisis bahasa. Dari pemikiran ini kemudian berkembanglah pemikiran tentang hermeneutika.</p>
<p>Hermeneutika merupakan satu istilah yang cukup populer saat ini khususnya dalam bidang ilmu sosial humaniora. Apa itu hermeneutika dan bagaimana pemikiran tentangnya akan sedikit dibahas dalam tulisan sederhana ini.<span id="more-235"></span></p>
<p><strong>Pengertian dan Sejarah Awal Hermeneutika</strong><strong> </strong></p>
<p>Hermeneutika adalah sebuah kajian mengenai teori interpretasi atau penafsiran. Studi ini mulai berkembang dalam kritik penafsiran bibel seiring dengan kemunculan protestan. Persoalan penafsiran bibel seiring kemunculan protestan ini menggiring kepada kajian kritis terhadap teks bibel itu sendiri. Pada abad ke17 dan ke18, pendekatan kritis kepada teks Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) berkembang.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Kajian kritis ini kemudian berkembang tidak hanya berlaku pada teks-teks bibel tapi termasuk teks-teks lainnya. Bahkan, kemudian berkembang lagi meliputi segala hal yang dapat disamakan dengan teks hingga usaha memahami makna kehidupan.</p>
<p>Hermeneutika cukup sulit didefinisikan secara tunggal. Hal ini merujuk sekian banyaknya teori tentang hermeneutika itu sendiri dan juga perkembangannya. Akan tetapi, lepas dari itu, tentu saja terdapat titik temu dari semuanya terlebih jika dimaklumi bahwa sekian tersebut sama-sama menggunakan istilah hermeneutika yang mana bisa dirunut maknanya secara etimologi.</p>
<p>Secara etimologi, hermeneutika berasal dari kata kerja Bahasa Yunani <em>hermeneuein </em>yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda <em>hermeneia</em>, “interpretasi”. Dalam penggunaan aslinya, kata ini memiliki tiga bentuk makna dasar. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk verba dari <em>hermeneuein,</em> yaitu: (1) <em>mengungkapkan </em>kata-kata, misalnya, “<em>to say”</em>; (2) <em>menjelaskan</em>, seperti menjelaskan sebuah situasi; (3) <em>menerjemahkan</em>, seperti di dalam penerjemahan bahasa asing. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja Inggris “<em>to interpret</em>”, namun masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Richard E. Palmer (1969) dalam bukunya memberikan 6 definisi modern hermeneutika. Masing-masing definisi ini sekedar merupakan tahapan-tahapan historis; ia menunjuk suatu peristiwa atau pendekatan penting dalam persoalan interpretasi. Keenam definisi tersebut adalah; (1) Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel, (2) Hermeneutika sebagai metodologi filologis, (3) Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistic, (4) Hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi <em>geisteswissenchaften</em>, (5) Hermeneutika sebagai fenomenologi <em>dasein</em> dan pemahaman eksistensial, dan (6) Hermeneutika sebagai sistem interpretasi<a href="#_ftn3">[3]</a>. Keenam definisi ini tentu saja terkait tahapan historis kajian hermeneutika hingga masa Palmer saja, tidak sampai masa sekarang. Pasca Palmer, kajian hermeneutika semakin berkembang.</p>
<p><strong>Hermeneutika dalam Kilasan Tokoh</strong><strong> </strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Schleiermacher (1768 –1834) (Hermeneutika teoritis/romantisis)</span></p>
<p>Friedrich Schleiermacher adalah orang yang dianggap mampu mengangkat hermeneutika tidak sekedar dalam konteks kajian Bibel tapi semua bacaan. Semua teks termanifestasikan melalui bahasa, oleh karena itu bilamana prinsip-prinsip pemahaman melalui bahasa dapat dirumuskan, maka terwujudlah hermeneutika umum<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Kajian hemeneutika beliau ini berpusat mengenai bagaimana memperoleh pemahaman yang benar, oleh karenanya kajian beliau dikenal dengan istilah hermeneutika teoritis. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. Oleh karena tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas, maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk &#8220;merekonstruksi makna&#8221;. <a href="#_ftn5">[5]</a><em> </em></p>
<p>Dalam rangka merekonstruksi makna, Scheleirmacher menawarkan dua pendekatan: pertama, pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung; kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subyektif sang penggagas sendiri. Dua unsur pendekatan ini dalam hermeneutika teoritis, dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisah. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menjadi tidak obyektif. Sebab, teks menurut hermeneutika teoritis sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. Agar pembaca memahami makna yang dikehendaki penggagas dalam teks, hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamannya dengan penggagas teks. Dia seolah-olah bayangan penggagas teks. Agar mampu menyamakan posisinya dengan penggagas, dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirinya, dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik, yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks, dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut. Dengan demikian, untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya, termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. Hal ini juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dilthey (Hermeneutika Metodis)</span></p>
<p>Perkembangan berikutnya ditandai oleh pemikiran Wilhelm Dilthey yang membedakan antara ilmu alam / ilmu eksakta (<em>Naturwissenschaften</em>) dan ilmu sosial dan humaniora / ilmu non-ekaskta (<em>Geisteswissenschaften</em>). Ilmu alam menjelaskan (<em>erklären</em>) sesuatu dan bertanya tentang penyebab-penyebab terjadinya sesuatu secara fisik, sementara ilmu sosial dan humaniora mencoba mencari tahu dan memahami (<em>verstehen</em>) sesuatu yang bersifat psikis, non-fisik.</p>
<p>Dilthey menyatakan bahwa tugas hermeneutika adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Selanjutnya, dengan mengambil penekanan yang sedikit berbeda dengan hermeneutika teoritis Schleiermacher yang menekankan pada pencarian makna obyektif yang dihendaki penggagas, Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. Sehingga, hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah, bukan ekspresi mental penggagas. Karena itu, yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey, adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks. Karena itu, berbeda dengan Schleiemacher, untuk merekonstruksi makna teks, menurut Dilthey tidak harus menyelam ke dalam pengalaman penggagas. Sebab pengalaman itu dimediasi oleh karya-karya para tokoh sejarah yang menghayati realitas pada masanya. Hal itu bisa ditemukan dengan pemahaman terhadap makna budaya yang diproduknya. Di sinilah sikap empati pembaca terhadap teks menemukan tempatnya.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Emilio Betti</span></p>
<p>E. Betti termasuk tokoh hermeneut yang menganut hermeneutika teoritis yang mencoba memadukan antara teori Schleiemacher dan Wilhelm Dilthey. Sebagaimana pendahulunya, hermeneutika menurut Betti bertujuan untuk menemukan makna obyektif. Betti menawarkan empat momen gerakan alam menemukan makna obyektif: pertama, penafsir melakukan investigasi fenomena linguistik teks, kedua, penafsir harus mengosongkan dirinya dari segala bentuk kepentingan, tiga, penafsir harus menempatkan dirinya dalam posisi seorang penggagas melalui kerja imajinasi dan wawasan, empat, melakukan rekonstruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi untuk memperoleh hasil yang ingin dicapai dari ungkapan teks.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Heidegger (Fenomenologi <em>Das Sein,</em> Hermeneutika dialektis)</span></p>
<p>Martin Heidegger membawa hermeneutika ke ranahnya yang bersifat ontologis. Oleh karenanya, hermeneutika beliau yang lebih menekankan fenomenologi <em>das sein</em> ini dikenal dengan hemerneutika filosofis. <em>Das Sein </em>sebagai penyebab munculnya kegiatan berfikir menurut Heidegger adalah merupakan bahasa yang sejati. Kegiatan berpikirf adalah merupakan suatu jawaban terhadap <em>das sein</em>, untuk mencari ungkapan bahasa yang tepat sehingga <em>das sein</em> dapat benar-benar menjadi bahasa, sehingga selanjutnya dapat dikomunikasikan. Heidegger memandang bahwa bahwa bahasa adalah tempat tinggal ‘sang ada’. Dengan lain perkataan bahwa bahasa adalah ruang bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Fenomenologi hermeneutika Heidegger adalah suatu fenomena tentang ‘ada’, suatu hermeneutika yang membuka sesuatu yang tersembunyi, bukan interpretasi atas interpretasi (misalnya suatu teks), melainkan kegiatan primal interpretasi yang membuka hakikat ‘ada’ menjadi terbuka. Menurut beliau, pada hakikatnya hermeneutika adalah merupakan ciri hakiki manusia. Pemahaman merupakan kemampuan menangkap kemungkinan-kemungkinan hakikat eksistensi manusia. Pemahaman dipandang bukan sekedar peristiwa kejiwaan, melainkan merupakan proses ontologis, sebagai penguakan segala sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hans Georg Gadamer (Hermeneutika dialogis)</span></p>
<p>Sebagai penerus Heidegger, Gadamer menolak anggapan hermeneutika teoritis yang menganggap hermeneutika bertujuan menemukan makna obyektif. Gadamer menganggap tidak mungkin diperoleh pemahaman yang obyektif atau definitif sebuah teks sebagaimana digagas para penggagas hermeneutika teoritis, karena dua alasan: pertama, orang tidak bisa berharap menempatkan dirinya dalam posisi pengarang asli teks untuk mengetahui makna aslinya. Kedua, memahami bukanlah komuni misterius jiwa-jiwa dimana penafsir menggenggam makna teks yang subyektif. Memahami menurutnya adalah sebuah fusi horizon-horizon: horizon penafsir dan horizon teks. Sebagai tawarannya, Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci hermeneutis<a href="#_ftn13">[13]</a>:</p>
<p>Pertama, kesadaran terhadap &#8220;situasi hermeneutik&#8221;. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks.</p>
<p>Kedua, situasi hermeneutika ini kemudian membentuk &#8220;pra-pemahaman&#8221; pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkkan teks dengan konteks. Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks, menurut Gadamer, pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan.</p>
<p>Ketiga, setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon, horizon pembaca dan horizon teks. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. Sebab, teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut &#8220;lingkaran hermeneutik&#8221;.</p>
<p>Keempat, langkah selanjutnya adalah menerapkan &#8220;makna yang berarti&#8221; dari teks, bukan makna obyektif teks. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup, maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks.</p>
<p>Dalam kegiatan penafsiran, hermeneutika filosofis mengandaikan seorang penafsir atau pembaca didahului oleh horizon pembaca yang kemudian membentuk pra pemahaman. Namun penting digaris bawahi bahwa Gadamer tidak bermaksud memberikan kebebasan mutlak bagi penafsir. Gadamer tetap memberikan rambu-rambu, yakni agar penafsir bersikap terbuka pada teks. Penafsir sejatinya membiarkan teks menghadiri penafsir untuk kemudian diadakan dialog antara keduanya untuk menghilangkan ketegangan. Sebab, sebagaimana pembaca, teks juga mempunyai sejarahnya sendiri yang disebut horizon teks. Dengan prinsip makna tidak ditemukan di dalam teks, Gadamer berpendapat bahwa &#8220;memahami&#8221; adalah tindakan sirkuler antara teks dengan pembaca yang disebut the fusion of horison, yakni mempertemukan pra pemahaman pembaca dengan cakrawala atau horizon teks. Dalam negosiasi itulah, makna yang dicari bersemayam. Penekanan Gadamer pada fusi horizon dalam menemukan makna didasarkan pada argumen bahwa seseorang tidak mungkin bisa melepaskan diri dari tradisi dan prasangkanya dan apalagi memasuki tradisi dan prasangka orang lain. Menurut Gadamer, keduanya pasti hadir dalam setiap tindakan menafsir, lantaran keduanya merefleksikan keterkondisian historis umat manusia. Berbeda dengan hermeneutika teoritis yang hendak &#8220;merekonstruksi makna&#8221;, tujuan utama hermeneutika filosofis adalah &#8220;memproduksi makna teks&#8221;, melalui fusi horison pembaca dan horizon teks. Begitu makna produktif ditemukan, langkah selanjutnya adalah menerapkannya ke dalam konteks di mana pembaca berada. Tentu makna yang diterapkan bukanlah makna obyektif sebagaimana dimaksudkan hermeneutika toritis, melainkan &#8220;makna yang berarti&#8221; bagi pembaca. Makna itu mempunyai nilai bagi kehidupan pembaca, bukan bagi kehidupan penggagas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jurnal Gerbang, Menafsirkan Hermeneutika, (Surabaya, 2003)</p>
<p>Komarudin Hidayat, <em>Menafsirkan Kehendak Tuhan, </em>(Jakarta: Teraju, 2004)</p>
<p>Richard E. Palmer, <em>Hermeneutika: Teori baru Mengenai Interpretasi, </em>(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)</p>
<p>Kaelan, <em>Filsafat Bahasa</em>, (Yogyakarta: Paradigma, 2002)</p>
<p>Adnin Armas, <em>Metodologi Bibel dalam Studi AlQur’an </em>(Jakarta: Gema Insani Press, 2005)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Adnin Armas, <em>Metodologi Bibel dalam Studi AlQur’an </em>(Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hal. 36-43</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat Richard E. Palmer. <em>Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi</em>, terj. Musnur Hery &amp; Damanhuri Muhammad, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm.  14-36<em> </em></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>ibid</em> hlm. 38-49</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Kaelan</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>ibid</em></p>
<p><a href="#_ftnref7"></a></p>
<p>[7] http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/hermeneutik.html</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Kaelan, <em>Filsafat Bahasa</em>, (Yogyakarta: Paradigma, 2002)</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Kaelan, <em>Filsafat Bahasa</em>, (Yogyakarta: Paradigma, 2002), hal. 203</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Ibid, </em>hal. 205</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=235&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2009/12/16/gayane-nggaplek-hermeneutik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Takdir Terungkap Tabir Tersingkap (4T)</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2009/12/11/takdir-terungkap-tabir-tersingkap-4t/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2009/12/11/takdir-terungkap-tabir-tersingkap-4t/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 07:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[asy'ariyyah]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[sifat allah]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>
		<category><![CDATA[umm al-barahin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[dari catatan harian Hari Tanggal 24 November &#8216;Amul Imtihan ; laisa adabiyyan wala ilmiyyan lakinahu mbuh lah asal-asalan asal naf&#8217;an. Sepulang dari kampus sore ini saya langsung merebahkan badan untuk istirahat sejenak. Alarm ponsel saya atur agar berbunyi pada pukul 15.49 WIB. Tiap sore pukul 16.00 WIB ada jadwal mengajar kitab tauhid. Walaupun sudah diatur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=231&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dari catatan harian Hari Tanggal 24 November &#8216;Amul Imtihan ; laisa adabiyyan wala ilmiyyan lakinahu mbuh lah asal-asalan asal naf&#8217;an.</p>
<p>Sepulang dari kampus sore ini saya langsung merebahkan badan untuk istirahat sejenak. Alarm ponsel saya atur agar berbunyi pada pukul 15.49 WIB. Tiap sore pukul 16.00 WIB ada jadwal mengajar kitab tauhid. Walaupun sudah diatur sedemikian rupa, ternyata Tuhan berkehendak lain. Saya terbangun pada pukul 16.25 WIB, yang berarti terlambat selama 25 menit. Rencana kita memang tak selamanya diwujudkan oleh Yang Maha Menghendaki. Pendengaran kita pun terbatas pada obyek suara pada sifat-sifat tertentu. Tidak selamanya orang yang tertidur kemudian bisa terbangun karena mendengar suara alarm.</p>
<p>Meski terlambat, saya tetap masuk kelas dan membacakan kitab Ummul Barahin. Pembahasan sore ini adalah tentang sifat sama&#8217; dan bashar Allah SWT. Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, tanpa telinga dan mata, karena Ia berbeda dengan semua makhluk (Mukhalafah). Kedua sifat tersebut berhubungan segala sesuatu yang maujud. <span id="more-231"></span>Pendengarannya tidak hanya berhubungan dengan suara an sich tetapi juga sesuatu yang ada selainnya.</p>
<p>Di kelas Ummul barahin saya merasakan banyak sekali ilmu yang didapat. Saya merasa belajar ilmu kalam dengan cara ini juga telah mencakup belajar ilmu akhlak dan tasawuf.</p>
<p>Bagaimana tidak, ketika membahas tentang sifat kuasa Allah kita selalu dihadapkan dengan persoalan perbuatan kita, apakah ia telah ditentukan dan diciptakan oleh Tuhan ataukah muncul dari dalam diri kita sendiri.</p>
<p>Menurut apa yang saya fahami, golongan Asy&#8217;ariyah dalam hal ini sulit menjelaskan hakikat pendapatnya. Sunni Asy&#8217;ariyyah memahami bahwa segala perbuatan kita adalah ciptaan Allah SWT. Akan tetapi, pendapat ini tidak kemudian sama dengan apa yang difahami oleh golongan Jabariyah. Sunni berada di antara dua golongan yaitu Jabariyah yang menyatakan kita tak punya usaha sedikitpun dan Qadariyah yang menyatakan bahwa perbuatan kita entah baik ataupun buruk adalah murni dari dalam kita sendiri.</p>
<p>Saya memahami bahwa pada hakikatnya semua dari Allah. Yang lalu, sekarang, ataupun nanti, entah baik ataupun buruk, semuanya sudah ditentukan oleh Allah SWT. Kita tinggal menjalani dan merasakan sendiri apa yang telah ditentukan Allah tersebut. Kelembutan kekuasaan Allah menjadikan seolah kita punya kuasa untuk menentukan pilihan. Padahal, pilihan kita pun adalah telah ditentukan Allah. Kita sama sekali tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Ketidak tahuan inilah kemudian kita &#8216;atas kuasa Allah&#8217; menentukan langkah dan pilihan kita selanjutnya.</p>
<p>Allah sendiri, dengan diutusnya para rasul, telah memberitahukan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Pemberitahuan ini juga disertai dengan konsekuensi dari masing-masing yang baik dan buruk. Allah pun dengan kuasa-Nya telah menciptakan sunnatullah di alam semesta ini sehingga makhluk-Nya seolah diberitahu apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya.</p>
<p>Dengan tahu bahwa segalanya adalah ketentuan Allah, tentunya rasa syukur lah yang kemudian muncul jika apa yang terjadi pada diri kita adalah sesuatu yang baik. Bahkan, ketika rasa syukur muncul maka sudah sepatutnya diiringi rasa syukur yeng kedua karena diberi sesuatu yang baik dan mampu bersyukur, dan seterusnya hingga selayaknya rasa syukur tiada hentinya muncul dari dalam diri makhluk.</p>
<p>Begitu pula ketika kita melihat sesuatu yang buruk menimpa orang lain, tentunya kita tidak langsung memvonis orang tersebut adalah orang yang buruk dan membencinya. Karena, bisa saja satu detik kemudian faktanya dibalik, Ia memperoleh kebaikan dan kita tidak. Bahkan ketika muncul perasaan benci maka sebenarnya kita pun sedang memperoleh suatu yang terhitung buruk.</p>
<p>Lalu, apakah di akhirat nanti orang yang masuk neraka akan protes karena ia telah dikehendaki dengan sesuatu yang buruk? Lalu muncul pertanyaan, dimanakah keadilan Tuhan?</p>
<p>Tentu saja Tuhan bebas menentukan apa yang Ia kehendaki. Toh sebagaimana telah disampaikan bahwa kita sama sekali tak tahu apa yang kan terjadi pada kita. Di sisi lain, Tuhan telah memberitahukan mana yang baik dan mana yang buruk. Semua itu sah sah saja bagi Tuhan Pencipta alam semesta.</p>
<p>Alhamdulillah.</p>
<p>Malam ini, ketika saya masuk kelas untuk mengajar nahwu, saya ditelepon Abah Yai dan disuruh mencari redaksi fiqih (ta&#8217;bir) tentang suatu masalah. Masalahnya adalah apakah boleh seekor sapi disembelih dengan niatan sebagian orang untuk qurban dan sebagian lagi untuk aqiqah ?</p>
<p>Saya pun terpaksa meninggalkan kelas dan mencari jawaban permasalahan yang dimaksud. Santri di kelas saya minta untuk mempelajari beberapa contoh-contoh kalimat dalam Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Akhirnya, dengan sedikit bersusah payah saya menemukan redaksi kitab fiqih yang memberikan jawab atas pertanyaan tersebut. Jawaban pertanyaan yang dimaksud terdapat dalam kita hasyiyah Al-Bujairomi Juz 4. Di sana dinyatakan boleh jika seekor sapi diniatkan sebagian untuk qurban dan sebagian untuk aqiqah.</p>
<p>Saya merasa bahwa saya bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ilmu fiqih. Begitu banyak hal yang belum saya ketahui di bidang ini. Walaupunsecara umum memang sedikit sekali sebenarnya apa yang kuketahui, dibandingkan dengan luasnya ilmu. Saya masih ingin memperdalam kajian kitab fiqih dan ushul fiqih. Apalagi, sebenarnya apa yang lebih dibutuhkan masyarakat adalah keilmuan di bidang fiqih ini, bukan pengetahuan tentang ilmu bahasa Arab yang selama ini saya geluti di kampus dan juga di pesantren.</p>
<p>Namun, sampai berapa lama lagi saya akan tinggal di pesantren ? Teman-teman yang masuk pesantren bersamaan waktunya dengan saya kini banyak yang telah hidup di rumah bahkan bersama istri. Lalu, kapan saatnya saya bisa seperti mereka ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/231/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=231&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2009/12/11/takdir-terungkap-tabir-tersingkap-4t/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jumatan di Hari Raya</title>
		<link>http://irfanantono.wordpress.com/2009/11/23/jumatan-di-hari-raya/</link>
		<comments>http://irfanantono.wordpress.com/2009/11/23/jumatan-di-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 06:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[shalat ied]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanantono.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman yang baik bertanya kepada Kang Ja&#8217;far, &#8220;Kang, gimana hukumnya shalat Jumat jika bersamaan dengan hari ied? Dengar-dengar, katanya shalat jumat boleh ditinggal jika kita udah shalat ied. Malah, ada yang bilang gak wajib shalat jumat, dan juga gak perlu shalat dzuhur. Gimana Kang ?&#8221; Kang Ja&#8217;far bertanya, &#8220;Siapa yang bilang seperti itu? Dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=222&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Seorang teman yang baik bertanya kepada Kang Ja&#8217;far, &#8220;Kang, gimana hukumnya shalat Jumat jika bersamaan dengan hari ied? Dengar-dengar, katanya shalat jumat boleh ditinggal jika kita udah shalat ied. Malah, ada yang bilang gak wajib shalat jumat, dan juga gak perlu shalat dzuhur. Gimana Kang ?&#8221;</p>
<p dir="ltr">Kang Ja&#8217;far bertanya, &#8220;Siapa yang bilang seperti itu? Dia sampaikan landasannya gak? Jangan asal ceplos, alias waton muni.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya, saya juga nuntut dalilnya, Kang. Saya kan juga ingin tahu. Karena itu, saya tanya ama sampean.&#8221; Balas si teman.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu benar, karena kamu mencoba untuk mengklarifikasi dalil hukumnya. Itu namanya kamu berusaha naik tingkat dari seorang muqallid, yang hanya taklid alias ikut pendapat tanpa tahu dalil, lalu naik menjadi muttabi&#8217;. Ittiba&#8217; itu ikut pendapat dalam satu masalah hukum diikuti dengan pengetahuan akan dalil yang digunakan. Beda dengan seorang mujtahid yang mampu menyimpulkan suatu hukum dari dalil-dalilnya&#8221;<span id="more-222"></span></p>
<p dir="ltr">&#8220;Katanya ada haditsnya, Kang. Aku juga gak tahu benar atau tidak.&#8221; Ujar si teman tadi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Nah, jangan cuma melihat hadits kemudian gegabah langsung dipahami begitu saja. Hadits pun perlu diteliti lagi benar atau tidak. Maksudnya, hadits itu juga bertingkat, ada yang kuat ada yang lemah. Nah, hadits temanmu itu shahih alias kuat gak ?&#8221;, Kang Ja&#8217;far menimpali.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waduh Kang, repot sekali. Akang ini sebenarnya mau jawab pertanyaan tadi gak sih ? Kok malah aku diceramahi macam-macam. Aku kan juga belajar ilmu hadits Kang, juga ushul fiqih, juga fiqih, dan macam-macam.&#8221;, balas temanku sedikit emosi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Hehe, aku takutnya kalau jawab asal seingat saya, nanti ente gak percaya dan ragu. Jadi, mendingan ambil dan buka kitab fiqih saja.&#8221;, balas Kang Ja&#8217;far.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Wah, katanya biar tahu dalil, kok bukanya kitab fiqih !&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya gak apa-apa kan ?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Fiqih kan produk jadi Kang, bukan dalil !&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ohh gitu, ya kalau kamu mau nuntut ada dalil, kitabnya pakai Majmu&#8217; saja.  Di sana kan juga diutarakan dalil-dalilnya. Biar kamu puas sekalian. Mau ? Sana ambil kitabnya ! Pinjam di ndalem Abah Yai !&#8221;, ujar Kang Ja&#8217;far berusaha arif dan sabar.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Wah Kang, pakai software maktabah Syamilah saja Kang. Sekarang kan zaman laptop. Kan tinggal klak-klik klak-klik, Kang. Gak perlu buka kitab dan bingung cari-cari ibarot, gak ngerti halaman berapa. Gimana, Kang ?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Itu sekalian buat latihan kamu Bul, Kamu itu kitabnya saja gak punya, laptop juga gak punya. Sekarang itu yang mungkin dan enak itu minjam kitab ndalem yai, dah, cepat sana !&#8221;, Perintah Kang Ja&#8217;far.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waduh Kang, majmu&#8217; kan ada dua puluhan jilid. Aku minjam yang jilid berapa ? Wah, repot Kang !&#8221;, Kabul mengeluh.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Hahahah. Benar juga ente Bul. Ya udah, kita ke kantor saja pake maktabah syamilah.&#8221;</p>
<p dir="ltr"><strong>Ulasan :</strong></p>
<p dir="ltr">Ulama Syafi&#8217;iyyah menyatakan bahwa jika hari raya jatuh pada hari Jumat, maka Shalat Jumat tetap wajib dilaksanakan. Shalat Ied tidak kemudian menjadi pe-rukhshah alias alasan diringankannya hukum shalat Jumat. Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat dari Utsman bin Affan <em>ra </em>dan juga Umar bin Abdul Aziz. Artinya, wajib bagi mereka yang telah melaksanakan shalat ied untuk tetap melaksanakan shalat Jumat.</p>
<p dir="ltr">Hadits, atau lebih tepatnya atsar, yang menjadi sumber hukum shalat jumat di hari raya adalah khutbah Khalifah Utsman pada saat shalat Ied, sebagai berikut:</p>
<p dir="rtl"><strong>&#8221; أيها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم فمن أراد من أهل العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل ومن أراد أن ينصرف فلينصرف &#8220;</strong></p>
<p dir="ltr">&#8220;Wahai orang-orang, dua hari raya (ied) telah jadi satu pada hari ini. Bagi penduduk &#8216;Aliyah yang ingin shalat jumat bersama, maka shalatlah nanti, dan barang siapa yang ingin pulang, maka silahkan pulang.&#8221;</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Hadits tersebut terdapat dalam <em>Shahih Bukhari</em> pada bab <em>al-Adhahi</em> nomer 5572 dengan sedikit redaksi yang berbeda. Kemudian, juga terdapat dalam <em>Al-Umm</em> Imam Syafi&#8217;i pada bab <em>ijtima&#8217; al-&#8217;idain</em>, <em>Al-Muwaththo&#8217; </em>Imam Malik dalam bab <em>al-Amru bi ash-Shalat Qabla al-Khutbah fi al-&#8217;Idain, Shahih Muslim </em>pada bab <em>Shaum </em>nomer 1137<em>, Abi Dawud </em>nomer 2416, dan <em>At-Tirmidzi</em> nomer 771.</p>
<p dir="ltr">Yang dimaksud &#8216;Aliyah dalam hadits adalah sebuah desa di sebelah timur Madinah. Penduduk desa tersebut adalah orang-orang yang wajib menghadiri shalat Jumat di kota karena panggilan shalat samapai kepada mereka.</p>
<p dir="ltr">Dalam permasalahan hukum shalat Jumat di hari raya ini memang terdapat beberapa pendapat. Madzhab Syafi&#8217;iyah jelas menyatakan bahwa shalat Jumat tetap wajib dilaksanakan. Adapun konteks hadits di atas adalah orang-orang yang berasal dari luar kota yang akan kerepotan (masyaqqoh) jika harus pulang setelah shalat ied lalu kembali lagi untuk shalat Jumat.</p>
<p dir="ltr">Pendapat lainnya adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa hukum      shalat Jumat tidak lagi wajib bagi mereka yang melaksanakan shalat ied,      tetapi wajib dilaksanakan shalat Dzuhur. Landasan yang dipakai dalam      pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, yang      terdapat dalam <em>Abi Dawud </em>1070, <em>An-Nasa&#8217;i</em> 3/193, <em>Ibnu      Majah</em> 1310.</li>
<li>Imam Abu Hanifah menyatakan  bahwa shalat Jumat mutlak wajib      sebagaimana pada selain hari raya dengan landasan lemahnya hadits-hadits      yang ada sehingga hukum shalat Jumat dikembalikan sesuai asalnya, yaitu      wajib.</li>
<li>Imam Atho&#8217; bin Abi Rabah menyatakan bahwa      shalat Jumat menjadi gugur dan tidak digantikan dengan shalat Dzuhur.      Beliau mengambil landasan dari atsar yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu      az-Zubair yang dicatat dalam <em>Abu Dawud </em>1071 dan 1072, dan <em>An-Nasa&#8217;i</em> 3/194.</li>
</ol>
<p dir="ltr">Perbedaan pendapat semacam ini bukanlah hal yang aneh dalam permasalahan hukum Islam. Perbedaan bisa terjadi karena perbedaan pandangan dalam menilai derajat hadits, atau bisa karena perbedaan penafsiran. Hal semacam ini bukan sesuatu yang mengurangi nilai hukum Islam.</p>
<p dir="ltr">Adanya perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa seseorang harus bermadzhab, mengikuti satu madzhab tertentu. Jelas, mereka yang tidak mampu menyimpulkan hukum langsung dari dalilnya maka wajib mengikuti pendapat seorang mujtahid. Dalam hal ibadah, seseorang juga tidak boleh seenaknya mengambil pendapat-pendapat yang ringan saja dari madzhab yang berbeda karena hal ini bisa menyebabkan perbuatannya bisa saling dibatalkan oleh madzhab lainnya.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sumber Tulisan : An-Nawawi, Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf, <em>Al-Majmu&#8217; Syarh al-Muhadzdzb</em>, juz 4, (Beirut : Dar al-Fikr, 2000), halaman 411-413</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berikut adalah redaksi lengkap dari <em>Al-Majmu&#8217;</em>, di-<em>copy</em>-kan dari software Maktabah Syamilah dengan sedikit perbaikan disesuaikan dengan apa yang terdapat dalam kitab terkai cetakan Darul Fikri :</p>
<p dir="ltr">
<p dir="rtl"><strong>عبارة المهذّب :</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>وإن اتفق يوم عيد ويوم جمعة فحضر أهل السواد فصلوا العيد جاز أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة لما روى عن عثمان رضي الله عنه أنه قال في خطبته &#8221; أيها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم فمن أراد من أهل العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل ومن أراد أن ينصرف فلينصرف &#8221; ولم ينكر عليه أحد. ولأنهم إذا قعدوا في البلد لم يتهيؤا بالعيد فإن خرجوا ثم رجعوا للجمعة كان عليهم في ذلك مشقة والجمعة تسقط بالمشقة ومن أصحابنا من قال تجب عليهم الجمعة لأن من لزمته الجمعة في غير يوم العيد وجبت عليه في يوم العيد كأهل البلد والمنصوص في الأم هو الاول</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>عبارة المجموع شرح المهذّب :</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>(الشرح) هذا الأثر عن عثمان رضى الله عنه رواه البخاري في صحيحه والعالية بالعين المهملة هي قرية بالمدينة من جهة الشرق وأهل السواد هم أهل القرى والمراد هنا أهل القرى الذين يبلغهم النداء ويلزمهم حضور الجمعة في البلد في غير العيد وينكر علي المصنف قوله روى عن عثمان بصيغة التمريض مع أنه حديث صحيح وقد سبق التنبيه على نظائره وقوله يتهيأ مهموز.</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>أما الأحكام فقال الشافعي والأصحاب <span style="text-decoration:underline;">إذا اتفق يوم جمعة يوم عيد وحضر أهل القرى الذين تلزمهم الجمعة لبلوغ نداء البلد فصلوا العيد لم تسقط الجمعة بلا خلاف عن أهل البلد</span> وفي أهل القرى وجهان الصحيح المنصوص للشافعي في الأم والقديم أنها تسقط والثانى لا تسقط ودليلها في الكتاب وأجاب هذا الثاني عن قول عثمان ونص الشافعي فحملهما علي من لا يبلغه النداء (فإن قيل) هذا التأويل باطل لأن من لا يبلغه النداء لا جمعة عليه في غير يوم العيد ففيه أولي فلا فائدة في هذا القول له (فالجواب) إن هؤلاء إذا حضروا البلد يوم الجمعة غير يوم العيد يكره لهم الخروج قبل أن يصلوا الجمعة صرح بهذا كله المحاملي والشيخ أبو حامد في التجريد وغيرهما من الأصحاب قالوا فإذا كان يوم عيد زالت تلك الكراهة فبين عثمان والشافعي زوالها والمذهب ما سبق وهو سقوطها عن أهل القرى الذين يبلغهم النداء</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>(فرع) في مذاهب العلماء في ذلك : قد ذكرنا <span style="text-decoration:underline;">أن مذهبنا وجوب الجمعة علي أهل البلد وسقوطها عن أهل القرى</span> وبه قال عثمان ابن عفان وعمر بن عبد العزيز وجمهور العلماء <span style="text-decoration:underline;">وقال عطاء بن أبي رباح إذا صلوا العيد لم تجب بعده في هذا اليوم صلاة الجمعة ولا الظهر ولا غيرهما إلا العصر لا علي أهل القرى ولا أهل البلد</span> قال ابن المنذر وروينا نحوه عن علي بن أبى طالب وابن الزبير رضي الله عنهم <span style="text-decoration:underline;">وقال أحمد تسقط الجمعة عن أهل القرى وأهل البلد ولكن يجب الظهر</span> <span style="text-decoration:underline;">وقال أبو حنيفة لا تسقط الجمعة عن أهل البلد ولا أهل القرى</span> واحتج الذين أسقطوا الجمعة عن الجميع بحديث زيد بن أرقم وقال &#8221; شهدت مع النبي صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا فصلى العيد ثم رخص في الجمعة وقال من شاء أن يصلي فليصلّ &#8221; رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه باسناد جيد ولم يضعفه أبو داود وعن أبى هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال &#8221; قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أخّر أمر الجمعة وإنا مجتمعون &#8221; رواه أبو داود وابن ماجه باسناد ضعيف واحتج لابي حنيفة بأن الأصل الوجوب واحتج عطاء بما رواه هو قال &#8221; اجتمع يوم جمعة ويوم عيد علي عهد ابن الزبير فقال عيدان اجتمعا فجمعهما جميعا فصلاهما ركعتين بكرة لم يزد عليهما حتى صلى العصر &#8221; رواه أبو داود بإسناد صحيح على شرط مسلم وعن عطاء قال &#8220;صلى ابن الزبير في يوم عيد يوم جمعة أول النهار ثم رحنا إلي الجمعة فلم يخرج إلينا </strong>فصلينا<strong> وحدانا وكان ابن عباس بالطائف فلما قدم ذكرنا ذلك له فقال أصاب السنة &#8221; رواه أبو داود بإسناد حسن أو صحيح علي شرط مسلم واحتج أصحابنا بحديث عثمان وتأولوا الباقي علي أهل القرى لكن قول ابن عباس من السنة مرفوع وتأويله أضعف.</strong></p>
<p dir="ltr">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanantono.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanantono.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanantono.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanantono.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanantono.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanantono.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanantono.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanantono.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanantono.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanantono.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanantono.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanantono.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanantono.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanantono.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanantono.wordpress.com&amp;blog=3142184&amp;post=222&amp;subd=irfanantono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanantono.wordpress.com/2009/11/23/jumatan-di-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
