Kang IR [ Individual Reviews ]

April 17, 2010

Amalan Ampuh

Filed under: Adabiyyat,bahasa,Islamiyyat,Refleksi — irfanantono @ 12:40 pm
Tags: , ,

Mohon maaf, lama tak bersua, bersua pun refleksi kangen omah.

Bapa mbiyen tau nglarang anake belajar pencak nganggo alasan sing lumayan unik. Jare bapa Man Rakyat ora belajar pencak be laka sing ngaproki kaa. Iya ta iya.

Kiyaine juga pernah ngomong angger pan nggolet amalan kebal geni, ge aja nggolet amalan kebal geni sing nang ndunya. Angger bisa, goleta amalan kebal geni neraka. Dadi ya kuwe sing luwih ampuh.

Terus wingi-wing nyong kayong rada mikir. Ya bukane ndisit ora tau mikir. Tapi, wingi kayong ana sing anyar terlintas. Gara-garane sepele. Pas lagi njegong nang warung, nang ngarepe nyong ana wong wadon ayu nemen. Biasa lah, arane cah lanang, ya pengin weruh lha yaa. (more…)

December 11, 2009

Takdir Terungkap Tabir Tersingkap (4T)

Filed under: Islamiyyat,Refleksi — irfanantono @ 2:05 pm
Tags: , , , , ,

dari catatan harian Hari Tanggal 24 November ‘Amul Imtihan ; laisa adabiyyan wala ilmiyyan lakinahu mbuh lah asal-asalan asal naf’an.

Sepulang dari kampus sore ini saya langsung merebahkan badan untuk istirahat sejenak. Alarm ponsel saya atur agar berbunyi pada pukul 15.49 WIB. Tiap sore pukul 16.00 WIB ada jadwal mengajar kitab tauhid. Walaupun sudah diatur sedemikian rupa, ternyata Tuhan berkehendak lain. Saya terbangun pada pukul 16.25 WIB, yang berarti terlambat selama 25 menit. Rencana kita memang tak selamanya diwujudkan oleh Yang Maha Menghendaki. Pendengaran kita pun terbatas pada obyek suara pada sifat-sifat tertentu. Tidak selamanya orang yang tertidur kemudian bisa terbangun karena mendengar suara alarm.

Meski terlambat, saya tetap masuk kelas dan membacakan kitab Ummul Barahin. Pembahasan sore ini adalah tentang sifat sama’ dan bashar Allah SWT. Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, tanpa telinga dan mata, karena Ia berbeda dengan semua makhluk (Mukhalafah). Kedua sifat tersebut berhubungan segala sesuatu yang maujud. (more…)

November 23, 2009

Jumatan di Hari Raya

Filed under: Islamiyyat — irfanantono @ 1:15 pm
Tags: , , , ,

Seorang teman yang baik bertanya kepada Kang Ja’far, “Kang, gimana hukumnya shalat Jumat jika bersamaan dengan hari ied? Dengar-dengar, katanya shalat jumat boleh ditinggal jika kita udah shalat ied. Malah, ada yang bilang gak wajib shalat jumat, dan juga gak perlu shalat dzuhur. Gimana Kang ?”

Kang Ja’far bertanya, “Siapa yang bilang seperti itu? Dia sampaikan landasannya gak? Jangan asal ceplos, alias waton muni.”

“Ya, saya juga nuntut dalilnya, Kang. Saya kan juga ingin tahu. Karena itu, saya tanya ama sampean.” Balas si teman.

“Kamu benar, karena kamu mencoba untuk mengklarifikasi dalil hukumnya. Itu namanya kamu berusaha naik tingkat dari seorang muqallid, yang hanya taklid alias ikut pendapat tanpa tahu dalil, lalu naik menjadi muttabi’. Ittiba’ itu ikut pendapat dalam satu masalah hukum diikuti dengan pengetahuan akan dalil yang digunakan. Beda dengan seorang mujtahid yang mampu menyimpulkan suatu hukum dari dalil-dalilnya” (more…)

April 1, 2009

Ash’aria on Atom of The Changes (1)

Filed under: Islamiyyat — irfanantono @ 8:14 am
Tags: , , ,

Weh, opo iki..? Saya sempat berpikir, tak perlu menunggu suatu momen untuk melakukan perubahan, kita selalu menemukan momen tersebut. Perubahan adalah pasti. Perubahan dari ketiadaan menuju ada bagi kita dan seluruh alam adalah setiap saat. Seiring berjalannya waktu, perubahan tersebut terus terjadi. Hanya saja, kadang kita tak sadar akan hal itu karena terkadang indera hanya melihat hal yang sama tak berubah. Kesadaran bahwa segala yang mungkin adalah mungkin dan sesuatu berubah dari satu kemungkinan yang telah terjadi menuju kemungkinan lainnya akan membawa kita ke dalam dunia yang indah. he2, apa ya?

Teologi Asy’ariyah mengajarkan bahwa alam ini bersifat hadits alias baru, artinya ia ada setelah tiada. Kebaruan ini tidaklah dalam satu momen, tetapi terus terjadi. Alam terdiri atas a’radh (sifat-sifat yang bersifat baru), seperti berbagai warna, gerak dan diam, dan juga ajram (jirim, atau dzat). Kedua a’radh dan ajram adalah hal yang baru/huduts, ada setelah tiada, secara atomistik. Kebaruan terjadi terus menerus setiap waktu. Warna putih dinding 2 menit yang lalu adalah bukan putih yang sekarang. Setiap saat, kemungkinan putih tetap ada atau tidak ada adalah mungkin, dan faktanya putih yang lalu telah tiada dan digantikan yang baru. Kebaruan putih dari yang satu ke lainnya membuat indera menganggapnya sama dan tidak berubah, padahal tidak demikian.

Sulit dipahami ya? Datang dan diskusikan hal ini di kelas Awwaliyah I Madrasah LQ tiap hari Kamis dan Sabtu Sore. Atau, simak terus tulisan di blog ini. (weh, promosi.. “yo ga papa, ditulis kan untuk dibaca”, tapi bagaimana jika kalau yang ditulis tidak layak atau tidak menarik tuk dibaca? “Biarkan saja! Subyektif kan? Bagaimana bisa komentar kalau tidak baca?”

March 16, 2009

Ngrowot : Katakan “TIDAK” untuk Nasi !

Filed under: Islamiyyat — irfanantono @ 1:28 pm
Tags: , , , , ,

gambar dr wikipediaAda sebuah fenomena yang dapat ditemukan di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah alias PPLQ Jogjakarta. Fenomena ini mungkin juga ditemukan di pesantren-pesantren lainnya. Tidak sedikit para santri di PPLQ yang selama beberapa tahun ini tidak menikmati makanan dari bahan pokok beras, misalnya nasi, lontong, arem-arem, dan aneka jajanan dari bahan tepung beras. Hal ini mungkin sedikit aneh bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang notabene menggunakan padi/beras sebagai bahan makanan pokok. Mungkin akan muncul anggapan mereka tak mampu membeli beras sehingga makan singkong ataupun lainnya.

Mereka mampu makan nasi jika memang mau. Masalahnya, sampai sejauh ini mereka meninggalkan itu semua. Hal ini bisa diistilahkan dengan tirakat. Tirakat model ini, yaitu meninggalkan makan berbahan beras, dikenal dengan istilah ngrowot. Aturan main ngrowot ini bisa jadi berbeda-beda antara satu tempat dengan lainnya. Ngrowot model LQ ini adalah seperti yang diterapkan di PP API Tegalrejo Magelang asuhan KH Abdurrahman Khudlori. Maklum saja, pengasuh PPLQ, yaitu KH Najib Salimi, adalah lulusan salah satu pesantren besar di Jawa Tengah tersebut. Ngrowot model LQ menuntut santri yang menjalaninya untuk tidak makan makanan berbahan dasar beras, jenis makanan umumnya masyarakat setempat. Tirakat ini dijalani minimal selama 3 tahun atau bisa selama-lamanya. Beberapa santri menjalani tirakat ini mulai dari saat ia di pesantren hingga ia melangsungkan akad nikah.

Apakah tirakat model demikian diperbolehkan dalam Islam ? (more…)

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.