Frase judul tulisan ini memuat 3 kata, yaitu kata makna yang mendapat imbuhan me-i, cinta, dan kata sejati. Ketiga kata tersebut memiliki pengertiannya masing-masing, yang mungkin bisa disebut sebagai makna. Jadi, makna punya makna, cinta punya makna, dan sejati punya makna. Sudahlah.
Cinta Tuhan kepada makhlukNya. Pertanyaannya, apakah Tuhan memiliki cinta, ataukah benci? Apakah Tuhan memasukkan seseorang ke dalam Surga karena cinta dan memasukkan orang lain ke dalam neraka karena ia benci? Andai saja Tuhan punya cinta dan benci seperti itu, tentunya bukan benar-benar Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan bisa berada dalam ruang dan waktu, sehingga bisa sekarang cinta dan besok benci sebagaimana kita. Jadi, saya kira Tuhan tak punya cinta dan tak pula punya rasa benci sebagaimana yang digambarkan tadi. Makna cinta bagiNya saya kira adalah wujudnya pemberian kepada makhlukNya yang Dia hendaki pada zaman azali. Sebaliknya, mungkin makna benci dan marah adalah wujudnya siksa yang Dia kehendaki. Dari sinilah mungkin lebih tepat ketika dikatakan bahwa penyebutan cinta bagi Tuhan adalah metaforis.
Kalau cinta identik dengan memberi, dengan kata lain bahwa cinta adalah memberi, dan saling mencintai adalah saling memberi, maka layaklah bahwa Tuhan punya cinta. Bahkan, pemberian Tuhan sama sekali tidak karena pamrih, bahkan tidak pula untuk sekedar menghilangkan rasa susah karena cinta yang tak terekspresikan. Bahkan, pemberian Tuhan bukan karena orang yang diberi memang membutuhkan. Tuhan yang membuatnya membutuhkan sesuatu dan Tuhan pulalah yang memberikan pemenuhan kebutuhannya. Tuhan memang dibutuhkan oleh selain-Nya sedangkan Ia tak butuh kepada selain-Nya. Itulah Tuhan. Seorang ibu memang punya cinta kepada anaknya yang kecil. Akan tetapi, seandainya ia tak mengekspresikannya maka ia akan merasa susah hati. Cinta merupakan kebutuhan bagi si ibu.
Cinta makhluk adalah cinta yang egois, yaitu cinta yang memang menjadi kebutuhan bagi si pemilik cinta. Saling mencintai adalah bentuk kerjasama untuk saling memenuhi kebutuhan. Bahagia karena cinta adalah karena kebutuhan yang terpenuhi. Kesedihan karena cinta adalah karena kebutuhan yang tak terpenuhi.
Jadi, apakah Tuhan punya cinta? Yang jelas, ia punya Kekuasaan, Kehendak, dan Pengetahuan. Kekuasaan-Nya meliputi segala yang mungkin ada. Ia wujudkan makhluk dengan kekuasaan-Nya. Ia wujudkan apa yang Ia kehendaki. Tiada satupun yang ada tanpa Ia kehendaki. Pengetahuannya meliputi segala yang pasti ada, mungkin ada, dan juga yang tak mungkin ada. Pengetahuannya tak didahului dengan ketidaktahuan, bahkan tidak karena berproses dalam ruang dan waktu sebagaimana kita. Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Ia-lah Yang Satu, Yang Menciptakan segala sesuatu. ^-^




asssalamu alaikum, Kang irfan emang cakep tur pinter, pantes dadi idola santri putri dan inyong (tua tur bodo) Alhamdulillah, Menurutku, Tuhan memberi fasilitas kepada utuk manusia sehingga dapat mengenalNYA dan mencintainya, sesuai keterbatasan manusia. Jadi terserah manusia , mau mengenal Tuhanya sebagai apa, opo sebagai “tukang” pemberi hadiah surga bagi yang layak atau sebagai”pengazab” neraka bagi yang ingkar pada perintahNYA, tapi yang jelas Alloh Maha Suci dari segala dugaan manusia. Laisa kamislihi syaeun, Alloh berbeda dengan segala sesuatu, termasuk dari dugaan Kang Irfan maupun dugaane Nyong sing bodo iki.Nderek kanjeng Nabi langkung aman, tinimbang nderek filsuf sing durung jelas pertanggungjawabanya. Yo kita tunggu di akherat, sopo ya sing bener lan nderek Kanjeng Nabi . Wis ya inyong pamit, godbye eh wassalamualaikum
Comment by muhtasibtasib@yahoo.com — August 26, 2011 @ 6:22 am
kang tolong postkan pendapat jenengan tentang pacaran, aq pgin ngerti, heheheh
M.hasan
Comment by hasan — September 26, 2011 @ 11:31 pm