Sebagian pembaca mungkin kecewa karena di tulisan pertama saya sekedar cuap-cuap tak jelas kaitannya dengan tema tulisan. Mereka mungkin menganggap saya telah mempermainkan mereka. Seolah baru mencium aroma tak sedap dari makanan di hadapannya, mereka enggan untuk menyantapnya. Mereka tak sedikitpun tertarik untuk mengikuti seri berikutnya. Jangankan di seri kedua ini, baru satu atau dua alinea dari seri pertama saja mungkin mereka telah bergegas meninggalkan si penceramah tanpa suara itu. Maklum, selera orang berbeda-beda.
Saya cukup bersyukur karena orang-orang seperti di atas telah memberikan perhatiannya dengan meluangkan waktu untuk menghirup aroma tulisan. Sebagian lagi ada yang sama sekali tak melirik isinya. Hanya tahu dari judulnya saja mereka enggan untuk membacanya. Bahkan, mungkin ada lagi yang lebih menafikan wujud sang tulisan walau sekedar judul. Mereka sudah enggan hanya karena tahu siapa pencipta tulisan yang termaktub itu.
Namun, tentunya ada orang yang beruntung karena sudah melangkahkan kaki fikirnya hingga sejauh ini. Mereka adalah orang-orang yang beruntung karena diberi kesempatan menyimak yang tersurat bahkan hingga menyibak yang tersirat dari tulisan-tulisan saya. Tentu saja mereka beruntung karena saya khusus mendoakan mereka semoga mendapatkan sesuatu yang berharga, apapun itu.
Nah, sebelum mereka kecewa karena terlalu lama berbasa-basi, alangkah baiknya jika segera tampak tanda yang mengarah pada tema. Tentu saya takkan berniat mengecewakan mereka dengan hanya menampilkan judul yang diduga –dugaan juga- cukup menarik untuk disimak saja tanpa ada isi yang sesuai. Yang jelas, kalaupun mereka kecewa karena hasil akhirnya tak memuaskan , saya tak cukup peduli. Saya peduli ketika tulisan ini masih dalam prosesnya, yaitu dengan misi jangan sampai hasil akhir mengecewakan. Tapi, apa daya jika hasilnya mengecewakan, walaupun tidak seluruhnya.
Ditanya tentang referensi alias rujukan tulisan, saya nyatakan bahwa tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah menuntut pertanggungjawaban secara ilmiah pula –kurang tahu seperti apa bentuknya-. Bukan karena tak mampu memikul tanggung jawab, tapi memang bukan selera saya dan juga bukan niatan saya untuk membuatnya. Lagipula, saya sadar sepenuhnya bahwa saya manusia historis yang berproses hingga mengakumulasikan pandangan dan gaya orang lain dalam benak saya. Bukan tulisan ilmiah, lalu, tulisan jenis apa? Sastrakah? Saya malu untuk memastikannya. Yang jelas biarkanlah hamba menari-nari di atas liarnya hasrat untuk mengungkapkan gagasan. Berarti, tulisan liar? Saya tak mau disebut demikian, karena liar dalam Bahasa Inggris berarti pembohong. Saya selalu berusaha bersikap jujur bahkan dalam urusan cinta. Jadi, tolong jangan berhenti di sini hanya karena perkataan pakar bahwa tulisan yang baik adalah yang ringkas dan padat, tidak basa basi.
Maklum, bahasa telah menyederhanakan segala-galanya dengan menjadi penanda. Ia memang merefleksikan realitas yang ada, tapi saya rasa bahwa ia telah menjerumuskan segalanya dalam perangkap kesamaran dan ambiguitas. Bagaimana bahasa merefleksikan Tuhan yang kita yakini ada? Telah maklum bahwa penggambaran Tuhan oleh manusia lebih banyak dengan bahasa metafora, yang tak pernah sepenuhnya jelas. Jangankan menggambarkan Tuhan, bahkan bahasa –katanya- tak mampu sepenuhnya menampilkan penanda akan makna cinta sejati.
Kalau anda berfikir saya masih berbasa-basi, maka saya mohon maaf. Saya hanya ingin memberi permisalan bahwa pencarian makna cinta sejati membutuhkan proses yang bisa jadi cukup lama tergantung kemampuan kita.
Cinta sejati adalah term yang ringkas dengan isi yang padat. Ucapan terima kasih saya sampaikan untuk bahasa karena telah melakukannya untuk kita. Kita patut bersyukur karena mendapatkan sesuatu. Realita yang ada ini, andai saja lautan dijadikan tinta untuk menuliskannya, sungguh ia akan habis sebelum mampu menggambarkan seluruhnya. Jadi, jangan pernah kecewa karena tak mendapatkan seluruhnya, dan juga jangan pernah berhenti untuk berusaha mendapatkan seluruhnya, walau hanya sebagian yang didapatkan. Ma La Yudrak Ba’dluh, La Yutrak Kulluh, apa yang tak bisa didapatkan sebagiannya hendaknya tidak ditinggalkan seluruhnya. Kira-kira begitu kata ahli kaidah fikih -kalau gak salah-.
Cinta sejati bukanlah basa-basi. Siapapun boleh memaknainya dengan apa yang ia temukan. Jadi, biarkan saja cinta sejati menjadi tanda dengan berjuta-juta makna sesuai hitungan orang yang memaknainya.
Kembali ke cinta sejati. Ada yang menyatakan bahwa cinta sejati hanya layak dinisbatkan kepada Sang Pencipta. Benarkah demikian? Muncul pernyataan, mana yang sejati, cinta Tuhan kepada hamba-Nya ataukah cinta hamba kepada Tuhannya? Manakah yang sekedar metafora, cinta milik Tuhan ataukah cinta milik hamba? Pertanyaan semacam ini yang mungkin dapat mengakhiri basa-basi tulisan ini –kalau dianggap demikian-, untuk kemudian masuk bahasan yang sesuai dengan tema.
Berakhir? Belum. Masih ada sambungannya, Insya Allah.
June 16, 2010
Memaknai Cinta Sejati (Bag. II)
Advertisement
1 Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI




bagus sekali artikelnya bos, saya jadi punya pandangan dan referensi yang berbeda dari orang yang biasa pahami,terima kasih. silahkan mampir diblog saya bos.
Comment by ruang4belajar — June 28, 2010 @ 12:23 am