Saya barusan membaca sms seorang teman. Sms tersebut sudah lama sekali tinggal di inbox ponsel saya. Saya membaca kembali sms tersebut. Ternyata, saya memahami hal yang baru dari sms tersebut, sesuatu yang belum saya fahami ketika saya membacanya untuk pertama kalinya. Saya melakukan usaha penafsiran ulang, dan ternyata apa yang saya fahami saat pertama kali bukan hal yang mutlak. Nyatanya, sekarang saya memahami sesuatu yang lain, yang bisa jadi jauh dari penafsiran awal. Mungkin ini sama halnya ketika kita membaca kitab suci atau buku lainnya, selalu saja mungkin ada hal baru yang kita dapati.
Begitu juga ketika kata ‘cinta sejati’ dimunculkan. Mungkin, orang akan menganggap tulisan semacam ini sudah basi – ini dugaan saya -. Banyak pujangga yang bicara tentang hal itu. Lalu siapa saya yang bukan pujangga dan juga pengamat cinta. Mungkin, orang akan mengacuhkan tulisan semacam ini. Emang siapa yang nulis. Padahal, sangat mungkin ada hal baru yang tertulis di sini. Atau paling tidak, ketika seseorang membaca tulisan ini, ia akan memperoleh penafsiran baru tentang cinta sejati.
Tulisan semacam ini pun tentunya takkan lepas dari khasanah tulisan yang telah ada. Bisa jadi ada hubungan intertekstualitas – apa maning kiye-. Bisa jadi, ada hal lama milik tulisan sebelum ini. Hal ini wajar karena kita hidup bersifat historis, melanjutkan sejarah yang telah berjalan lama. Bolehlah kitab suci bicara tentang cinta, Shakespeare, Umr al-Qais, Khalil Gibran, Rendra, Bushiri, Syauqi, Ibnul Qayyim, ataupun pujangga-pujangga lainnya. Apa salahnya jika saya pun berbicara tentang itu.
Paling tidak, ada orang yang mengenal baik saya dan kehidupan saya yang mungkin penasaran dan ingin tahu bagaimana saya memaknai cinta sejati. Mereka tidak mencari makna itu, bisa jadi mereka hanya akan memaknai saya sebagai penulisnya, bukan tulisan saya. Atau, mungkin ada pula yang membangun konsep cinta sejati menurut dirinya sendiri. Banyak kemungkinan.
Bahkan tulisan semacam ini takkan final untuk meraih makna hakiki cinta sejati. Tulisan bisa terhenti, tapi pencarian makna takkan berhenti. Sejarah akan menuliskan dirinya.
Oleh karenanya, ….
(tulisan pembuka) … bersambung…




cinta sejati, cinta abadi, cinta hakiki.
cinta itu anugerah, menjaganya adalah keharusan, sebagai kesyukuran.
cinta pada ALLOH, pada Nabi Muhammad SAAW, dan seterusnya.
cinta perlu bukti,-
Comment by fiki — July 3, 2010 @ 3:30 pm