Di masa kampanye, jika anda memasuki kampung Mlangi, maka anda akan menemukan sebuah fenomena politik NU BGT. Bukti gairah politik warga NU yang besar kemudian fenomena perbedaan pandangan dalam intern bisa disaksikan dari bendera dan atribut parpol yang menghiasi jalanan aspal dari ringroad barat jogja masuk ke masjid jami’ Mlangi. Sayangnya, inyong tidak sempat mengambil gambar fenomena tersebut. Jika anda melintas jalan menuju Masjid yang termasuk patok nagari ini maka di sebelah kanan jalan akan berderet bendera PKB, dan di sebelah kiri bendera PKNU, dan di tengah jalan spanduk caleg dari PPNUI. Ketiganya adalah partai dengan lambang jagat dan bintang sembilan semua. Ya, sebagaimana maklum, perkampungan dengan sepuluh pesantren ini adalah salah satu kantong NU di DIY yang bermutu tinggi secara kualitas dan kuantitas. (more…)
March 28, 2009
Mlangi : NU BGT
March 23, 2009
Menggunjing Taman Baca Masyarakat
Membaca merupakan pintu menuju pengetahuan yang lebih luas. Dari sinilah muncul harapan beberapa orang yang peduli dengan pembelajaran masyarakat agar masyarakat Indonesia memiliki kesadaran tinggi untuk gemar membaca. Dulu, saya hanya mengenal Taman Bacaan yang berisi buku-buku komik, novel, dan sejenisnya. Selain itu, saya mengenal perpustakaan sebagai wadah koleksi buku dengan sekian banyak subyek. Sekarang, mata saya dibukakan kembali, hati diketuk sadar kembali, bahwa di suatu tempat atau bahkan di beberapa tempat terdapat apa yang dikenal dengan Taman Bacaan Masyarakat.
Saya teringat dengan seorang tua yang sangat gigih berjuang dengan membuka taman baca, dan juga berkeliling untuk meminjam-minjamkan buku-buku koleksi beliau. Beliau adalah mbah Dauzan Farouk, (more…)
March 22, 2009
Nasib Kiai-Kiai
Bagaimana sebenarnya eksistensi para kiai sekarang ? Apakah telah ditinggalkan? Beberapa hari yang lalu, ada berita kiai cabul di Malang, terus ada kiai mengintruksikan anak-anak santri ikut kampanye di Pekalongan, terus ada kiai yang diprotes dan disidik polisi akibat menikahi gadis belia. Wah, ditambah lagi, cerita tentang Ponari yang eksistensinya semakin membuat banyune kiai tidak lagi ampuh, terlibatnya kiai dalam dunia politik praktis, dan lain sebagainya. Benarkah kiai telah ditinggalkan umatnya, atau paling tidak ‘tidak digubris’ lagi?
Benarkah singgasana kiai telah runtuh?
Saya sangat apresiatif terhadap sebuah buku karya almarhum kiai muda Zainal Arifin Thoha yang berjudul Runtuhnya Singgasana Kiai. Semoga di beberapa hari ke depan saya akan menemukan buku itu kembali dan berdialog dengan kiai muda yang produktif menulis buku ini. Semoga saja.
Kalau Imam Ghazali sempat mengistilahkan ada ulama su’ yang berarti para orang berilmu yang berlaku buruk, maka Kang Ozie LQ sempat menelorkan sebuah istilah, Ulomo alias Ulone Agomo (ularnya agama).
Nama Unik : Abiyyu Ahsanu Amala
Kebahagiaan yang sangat adalah rasa yang hadir dalam diri seorang sahabat saya, yaitu ketika ia dikaruniai seorang keturunan, tepatnya pada 14 Maret 2009. Satu minggu setelah dilahirkan, disematkanlah sebuah nama bagi si Evan Junior ini, ABIYYU AHSANU AMALA. Iya, atas izin abah si bayi yang juga sahabat saya ini, Ahmad Syaefani, saya mencoba analisa nama dan menuliskannya di halaman ini dengan harapan pemberian nama ini menjadi momen yang akan dikenang. Katakanlah, 20 tahun yang akan datang si bocah akan jadi remaja yang sudah pintar browsing internet bahkan bikin blog. Nah, jika blog ini masih ada dan bisa diakses tentu si bocah akan menjadi teringat momen pemberian namanya sekaligus teringat kembali kenapa si ayah memberinya nama demikian, atau bagaimana ulasan koncone ayahnya atas namanya yang tergolong cukup unik ini. (he2, padahal setiap nama adalah unik)
Sebenarnya, tentu tujuan penamaan dengan nama tersebut tentunya lebih diketahui oleh si pemberi nama. Berhubung si pemberi nama bisa diwawancarai, akhirnya saya pun (more…)
March 16, 2009
Ngrowot : Katakan “TIDAK” untuk Nasi !
Ada sebuah fenomena yang dapat ditemukan di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah alias PPLQ Jogjakarta. Fenomena ini mungkin juga ditemukan di pesantren-pesantren lainnya. Tidak sedikit para santri di PPLQ yang selama beberapa tahun ini tidak menikmati makanan dari bahan pokok beras, misalnya nasi, lontong, arem-arem, dan aneka jajanan dari bahan tepung beras. Hal ini mungkin sedikit aneh bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang notabene menggunakan padi/beras sebagai bahan makanan pokok. Mungkin akan muncul anggapan mereka tak mampu membeli beras sehingga makan singkong ataupun lainnya.
Mereka mampu makan nasi jika memang mau. Masalahnya, sampai sejauh ini mereka meninggalkan itu semua. Hal ini bisa diistilahkan dengan tirakat. Tirakat model ini, yaitu meninggalkan makan berbahan beras, dikenal dengan istilah ngrowot. Aturan main ngrowot ini bisa jadi berbeda-beda antara satu tempat dengan lainnya. Ngrowot model LQ ini adalah seperti yang diterapkan di PP API Tegalrejo Magelang asuhan KH Abdurrahman Khudlori. Maklum saja, pengasuh PPLQ, yaitu KH Najib Salimi, adalah lulusan salah satu pesantren besar di Jawa Tengah tersebut. Ngrowot model LQ menuntut santri yang menjalaninya untuk tidak makan makanan berbahan dasar beras, jenis makanan umumnya masyarakat setempat. Tirakat ini dijalani minimal selama 3 tahun atau bisa selama-lamanya. Beberapa santri menjalani tirakat ini mulai dari saat ia di pesantren hingga ia melangsungkan akad nikah.
Apakah tirakat model demikian diperbolehkan dalam Islam ? (more…)
Sebuah Nama: Arnabun
Ketika menyusuri jalan Batikan Umbulharjo Yogyakarta, saya menemukan satu nama calon legislatif dari satu partai politik yang saya kira merupakan nama yang unik. Kenapa? Saya tidak bermaksud untuk mengkampanyekan beliau, ataupun mencela nama beliau. Hanya saja, saya cukup tertarik alasan penamaan seseorang dengan nama ARNABUN. Saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa beliau ini ketika kecilnya diberi nama yang secara bahasa berarti kelinci. Kelinci, sejenis hewan mamalia yang cukup digemari sebagai piaraan ini, telah mengilhami seseorang untuk menamakan bayinya dengan nama Arnabun, yang berarti kelinci dalam bahasa Arab. Apa sifat baik dari seekor kelinci sehingga diharapkan dimiliki oleh si anak. Atau jangan-jangan si pemberi nama tiada mengetahui bahwa nama itu berarti kelinci.
March 12, 2009
Santri LQ Ga GoBlog Blog
Rabu 11 Maret 2009, dari jam 9 malam hingga 2 malam, di pendopo LKiS Sorowajan, 12 santri PPLQ bersama-sama belajar tentang blogging di wordpress. Tampaknya ini sebagai wujud respon rekan-rekan santri terhadap perkembangan dunia informasi. Dengan media latihan seperti ini diharapkan mereka bisa berdakwah melalui internet. Atau tidak usah berlebih, diharapkan mereka mampu mengekspresikan diri melalui tulisan. Lebih khusus lagi semoga mereka mau ngurus blog LQ. Kegiatan ini disponsori oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Santri yang membawahi klub IT LQ.
March 9, 2009
Paradigma Titik Ba’ : Apa lagi ini ?
Wah, buku ini awalnya saya baca karena lebih dikarenakan faktor pengarangnya, yaitu seorang Thoha Faz. Beliau sering saya dengar dari cerita guru SMA saya tentang seorang yang memiliki cara dan gaya yang unik dalam menjalani proses belajar. Siswa yang unik ini diceritakan memiliki kecerdasan tinggi tetapi hampir tidak pernah masuk sekolah alias terlalu sering absen. Dalam dugaan saya, alumni ITB kelahiran Tegal ini memang seorang jenius yang tak lagi cocok dengan model pembelajaran di sekolah formal. Ternyata, dugaan ini menjadi terbukti setelah (more…)
Nama Baru : Al-Murtaqi Makarima
ALMURTAQI MAKARIMA
Nama ini terdiri dari dua kata. Saya cukup tertarik dengan nama ini karena mengingatkan pada satu bait nazham alfiyyah ibn malik, yaitu sebuah karangan berbentuk bait syair yang berisi tentang kaidah-kaidah bahasa Arab. Tampaknya, nama ini jarang kita jumpai. Kata pertama tersusun dari ALIF + LAM + MIM + RO’ + TA’ + QOF + YA’, mempunyai makna orang yang naik tingkatan. Sedangkan kata yang kedua tersusun dari MIM + KAF + ALIF + RO’ + MIM, mempunyai makna tempat-tempat yang mulia. Dengan demikian, nama di atas berarti seorang yang naik tingkatan menuju kemuliaan. Wallahu A’lam..
Kawula Abdi
Inyong kelingan ana guru pernah mbahas mengenai kata dalam bahasa Jawa yang menunjukkan kata ganti orang pertama. Dalam bahasa Jawa bagian tengah ke timur ada istilah kawula. Di bahasa Jawa bagian barat ada istilah abdi, dan dalam Bahasa Indonesia ada istilah saya. terus tambah lagi ada istilah hamba. Nah, ternyata orang Indonesia begitu rendah diri dalam mengkapkan dirinya. Coba saja perhatikan kata abdi = kawula = sa(ha)ya = hamba. semuanya menunjukkan kerendahan diri. Sepakat?




