Kang IR [ Individual Reviews ]

October 14, 2011

Abah KH Najib Salimi (1971-2011)

Nama lengkap beliau adalah Najib Mambaul Ulum, putra kedua dari KH Salimi, pengasuh PP A-Salimiyyah Cambahan Nogotirto Gamping Sleman.

Beliau dilahirkan pada Selasa Pon 5 Januari 1971 di daerah Mlangi, sebuah perkampungan di Sleman dimana terdapat makam leluhur beliau yaitu Mbah Nur Iman.

Beliau beristrikan satu orang, yaitu Hj Siti Chamnah, putri dari KH  Khudlori, pengasuh PP Al-Anwar Ngrukem Sewon Bantul. Beliau dikaruniai tiga orang anak, yaitu Muhammad Abdullah Falah, Muhammad Alwy Masduq, dan Abdah Iqtada.

KH Najib Salimi mendapatkan pendidikan agama pertama kali dari keluarga beliau yang notabene adalah keluarga pesantren. Ayah beliau adalah seorang kyai kharismatik di Mlangi. Ibu beliau adalah Nyai Hj. Bunyanah, putri Mbah Kyai Masduqi. Kemudian beliau menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang di bawah asuhan KH Abdurrhaman Chudlori dan KH Ahmad Muhammad Chudlori.

Selama 11 tahun KH Najib Salimi mengasuh PP Al-Luqmaniyyah Yogyakarta. Beliau meninggalkan dunia yang fana ini pada Malam Jumat legi 30 September 2011 setelah sebelumnya mengalami kecelakaan mobil di Kudus 5 hari sebelumnya. Banyak sekali tanda-tanda kebaikan yang menyertai kepergian beliau ke alam baka. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Masjid Jami Mlangi sebagaimana leluhur beliau. Allahu yaghfiru lahum wa yarhamuhum.

Abah, kami akan mengenang kasih sayang dan kemurahan hatimu. Terima kasih atas segala tarbiyah yang engkau curhakan untuk kami. Semoga Allah senantiasa merahmatimu hingga bertemu dengan-Nya kelak di Surga. Aamiin..

Nb: Unduh beberapa pengajian beliau di halaman DOWNLOAD

Lihat video penghormatan terakhir : Video Kenangan Almarhum Almaghfurlah KH Najib Salimi

July 6, 2011

Memaknai Cinta Sejati (Bag. III)

Filed under: Reaksi,Refleksi — irfanantono @ 7:42 am

Frase judul tulisan ini memuat 3 kata, yaitu kata makna yang mendapat imbuhan me-i, cinta, dan kata sejati. Ketiga kata tersebut memiliki pengertiannya masing-masing, yang mungkin bisa disebut sebagai makna. Jadi, makna punya makna, cinta punya makna, dan sejati punya makna. Sudahlah.

Cinta Tuhan kepada makhlukNya. Pertanyaannya, apakah Tuhan memiliki cinta, ataukah benci? Apakah Tuhan memasukkan seseorang ke dalam Surga karena cinta dan memasukkan orang lain ke dalam neraka karena ia benci? Andai saja Tuhan punya cinta dan benci seperti itu, tentunya bukan benar-benar Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan bisa berada dalam ruang dan waktu, sehingga bisa sekarang cinta dan besok benci sebagaimana kita. Jadi, saya kira Tuhan tak punya cinta dan tak pula punya rasa benci sebagaimana yang digambarkan tadi. Makna cinta bagiNya saya kira adalah wujudnya pemberian kepada makhlukNya yang Dia hendaki pada zaman azali. Sebaliknya, mungkin makna benci dan marah adalah wujudnya siksa yang Dia kehendaki. Dari sinilah mungkin lebih tepat ketika dikatakan bahwa penyebutan cinta bagi Tuhan adalah metaforis.

Kalau cinta identik dengan memberi, dengan kata lain bahwa cinta adalah memberi, dan saling mencintai adalah saling memberi, maka layaklah bahwa Tuhan punya cinta. Bahkan, pemberian Tuhan sama sekali tidak karena pamrih, bahkan tidak pula untuk sekedar menghilangkan rasa susah karena cinta yang tak terekspresikan. Bahkan, pemberian Tuhan bukan karena (more…)

Sadar Cinta

Filed under: Reaksi,Refleksi — irfanantono @ 6:57 am

Namanya begitu dalam terukir di hati. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa dapat mencintainya. Dari sekian banyaknya wanita cantik yang kulihat, maka ia adalah yang tercantik di antara mereka. Senyumnya luar biasa indahnya, seolah mampu menghentikan detak jantung selama sekian detik. Ooh, ia begitu elok dan menggemaskan ketika dipandang.
Tatap sendu kesedihan yang kadang muncul dari matanya sungguh tak sempat membuatku untuk bersabar. Aku sedih setiap kali melihatnya seperti itu. Lebih sedih lagi ketika ia berusaha menutupi kesedihannya di balik tubuh orang-orang. Ia sembunyi dariku. Entah kenapa. Ketika ku tanya apa yang telah menimpanya, ia selalu terdiam menutup segalanya. Ia membuatku semakin galau dan khawatir akan dirinya, dua hal yang (more…)

June 16, 2010

Memaknai Cinta Sejati (Bag. II)

Filed under: Reaksi,Refleksi — irfanantono @ 4:12 pm
Tags: ,

Sebagian pembaca mungkin kecewa karena di tulisan pertama saya sekedar cuap-cuap tak jelas kaitannya dengan tema tulisan. Mereka mungkin menganggap saya telah mempermainkan mereka. Seolah baru mencium aroma tak sedap dari makanan di hadapannya, mereka enggan untuk menyantapnya. Mereka tak sedikitpun tertarik untuk mengikuti seri berikutnya. Jangankan di seri kedua ini, baru satu atau dua alinea dari seri pertama saja mungkin mereka telah bergegas meninggalkan si penceramah tanpa suara itu. Maklum, selera orang berbeda-beda.
Saya cukup bersyukur karena orang-orang seperti di atas telah memberikan perhatiannya dengan meluangkan waktu untuk menghirup aroma tulisan. Sebagian lagi ada yang sama sekali tak melirik isinya. Hanya tahu dari judulnya saja mereka enggan untuk membacanya. Bahkan, mungkin ada lagi yang lebih menafikan wujud sang tulisan walau sekedar judul. Mereka sudah enggan hanya karena tahu siapa pencipta tulisan yang termaktub itu.
Namun, tentunya ada orang yang beruntung karena sudah melangkahkan kaki fikirnya hingga sejauh ini. Mereka adalah orang-orang yang beruntung karena diberi kesempatan menyimak yang tersurat bahkan hingga menyibak yang tersirat dari tulisan-tulisan saya. Tentu saja mereka beruntung karena saya khusus mendoakan mereka semoga mendapatkan sesuatu yang berharga, apapun itu.
Nah, sebelum mereka kecewa karena terlalu lama berbasa-basi, alangkah baiknya jika segera tampak tanda yang mengarah pada tema. Tentu saya takkan berniat mengecewakan mereka dengan hanya menampilkan judul yang diduga –dugaan juga- cukup menarik untuk disimak saja tanpa ada isi yang sesuai. Yang jelas, (more…)

June 2, 2010

Memaknai Cinta Sejati

Filed under: Reaksi,Refleksi — irfanantono @ 1:15 pm

Saya barusan membaca sms seorang teman. Sms tersebut sudah lama sekali tinggal di inbox ponsel saya. Saya membaca kembali sms tersebut. Ternyata, saya memahami hal yang baru dari sms tersebut, sesuatu yang belum saya fahami ketika saya membacanya untuk pertama kalinya. Saya melakukan usaha penafsiran ulang, dan ternyata apa yang saya fahami saat pertama kali bukan hal yang mutlak. Nyatanya, sekarang saya memahami sesuatu yang lain, yang bisa jadi jauh dari penafsiran awal. Mungkin ini sama halnya ketika kita membaca kitab suci atau buku lainnya, selalu saja mungkin ada hal baru yang kita dapati.

Begitu juga ketika kata ‘cinta sejati’ dimunculkan. Mungkin, orang akan menganggap tulisan semacam ini sudah basi – ini dugaan saya -. Banyak pujangga yang bicara tentang hal itu. Lalu siapa saya yang bukan pujangga (more…)

May 22, 2010

Isyarat Cinta

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 8:32 am

Pagi ini, setelah semalam tertidur diantar bacaan tentang semiotika lalu listrik mati mencipta gelap lalu terbangun pukul tiga sadar tuk tunaikan isya lalu makan seadanya lalu tidur hingga pukul lima lalu bangun shalat shubuh, setelah shalat shubuh, aku terduduk seperti biasa dengan niatan mengamalkan wirid. Alam ini sudah cukup terang untuk bisa disebut pagi yang cerah. Suara lantunan tikroran imrithi terdengar nyaring saling bersahutan. Mereka, lelaki dan perempuan, tampak begitu bersemangat mengawali hari ini. Tampaknya, kelelahan hari kemarin tak membekas di pagi ini.

Namun,  keceriaan mereka tampaknya bukan hal yang membuatku senang. Padahal, suara nyaring mereka tampaknya sama sekali mengganggu puluhan santri lainnya yang berniat melewatkan pagi cerah ini dengan skorsing kesadaran alias tidur. Suara nyaring mereka membuyarkan konsentrasiku melafalkan fatihah dan ayat kursi. Memang, lisan ini terus komat kamit, tetapi hati dan fikiran ini amit-amit, malah sepertinya gambar demit. he2. Kurang tahu sudah berapa kali aku membacanya, padahal aku hanya menuntut hanya tiga kali saja. Sebenarnya, aku sepenuhnya sadar bahwa bukan suara nyaring itu yang membuat bacaan jadi kering, tetapi (more…)

April 17, 2010

Amalan Ampuh

Filed under: Adabiyyat,bahasa,Islamiyyat,Refleksi — irfanantono @ 12:40 pm
Tags: , ,

Mohon maaf, lama tak bersua, bersua pun refleksi kangen omah.

Bapa mbiyen tau nglarang anake belajar pencak nganggo alasan sing lumayan unik. Jare bapa Man Rakyat ora belajar pencak be laka sing ngaproki kaa. Iya ta iya.

Kiyaine juga pernah ngomong angger pan nggolet amalan kebal geni, ge aja nggolet amalan kebal geni sing nang ndunya. Angger bisa, goleta amalan kebal geni neraka. Dadi ya kuwe sing luwih ampuh.

Terus wingi-wing nyong kayong rada mikir. Ya bukane ndisit ora tau mikir. Tapi, wingi kayong ana sing anyar terlintas. Gara-garane sepele. Pas lagi njegong nang warung, nang ngarepe nyong ana wong wadon ayu nemen. Biasa lah, arane cah lanang, ya pengin weruh lha yaa. (more…)

December 16, 2009

Gayane ngGaplek Hermeneutik (GAGAHE)

Filed under: bahasa — irfanantono @ 10:12 am
Tags: ,

sekali lagi… laisa uslubi adabiyyan wala ‘ilmiyyan walakinnahu mbuh lah asal-asalan asal naf’an.. dari makalah kampus:

HERMENEUTIKA

Pengantar

Salah satu ciri menonjol mayoritas filosof abad XX adalah menjadikan bahasa sebagai fokus kajian filsafat mereka. Mereka semakin menyadari bahwa persoalan-persoalan filsafat berkembang dan dapat dijelaskan melalui bahasa. Namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika yang ketat sebagaimana dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis. Hal inilah yang kemudian memunculkan pemikiran filsafat bahasa biasa yang berupaya memecahkan problema-problema filsafat dan membahas konsep-konsep filsafat dengan melalui suatu analisis bahasa. Dari pemikiran ini kemudian berkembanglah pemikiran tentang hermeneutika.

Hermeneutika merupakan satu istilah yang cukup populer saat ini khususnya dalam bidang ilmu sosial humaniora. Apa itu hermeneutika dan bagaimana pemikiran tentangnya akan sedikit dibahas dalam tulisan sederhana ini. (more…)

December 11, 2009

Takdir Terungkap Tabir Tersingkap (4T)

Filed under: Islamiyyat,Refleksi — irfanantono @ 2:05 pm
Tags: , , , , ,

dari catatan harian Hari Tanggal 24 November ‘Amul Imtihan ; laisa adabiyyan wala ilmiyyan lakinahu mbuh lah asal-asalan asal naf’an.

Sepulang dari kampus sore ini saya langsung merebahkan badan untuk istirahat sejenak. Alarm ponsel saya atur agar berbunyi pada pukul 15.49 WIB. Tiap sore pukul 16.00 WIB ada jadwal mengajar kitab tauhid. Walaupun sudah diatur sedemikian rupa, ternyata Tuhan berkehendak lain. Saya terbangun pada pukul 16.25 WIB, yang berarti terlambat selama 25 menit. Rencana kita memang tak selamanya diwujudkan oleh Yang Maha Menghendaki. Pendengaran kita pun terbatas pada obyek suara pada sifat-sifat tertentu. Tidak selamanya orang yang tertidur kemudian bisa terbangun karena mendengar suara alarm.

Meski terlambat, saya tetap masuk kelas dan membacakan kitab Ummul Barahin. Pembahasan sore ini adalah tentang sifat sama’ dan bashar Allah SWT. Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, tanpa telinga dan mata, karena Ia berbeda dengan semua makhluk (Mukhalafah). Kedua sifat tersebut berhubungan segala sesuatu yang maujud. (more…)

November 23, 2009

Jumatan di Hari Raya

Filed under: Islamiyyat — irfanantono @ 1:15 pm
Tags: , , , ,

Seorang teman yang baik bertanya kepada Kang Ja’far, “Kang, gimana hukumnya shalat Jumat jika bersamaan dengan hari ied? Dengar-dengar, katanya shalat jumat boleh ditinggal jika kita udah shalat ied. Malah, ada yang bilang gak wajib shalat jumat, dan juga gak perlu shalat dzuhur. Gimana Kang ?”

Kang Ja’far bertanya, “Siapa yang bilang seperti itu? Dia sampaikan landasannya gak? Jangan asal ceplos, alias waton muni.”

“Ya, saya juga nuntut dalilnya, Kang. Saya kan juga ingin tahu. Karena itu, saya tanya ama sampean.” Balas si teman.

“Kamu benar, karena kamu mencoba untuk mengklarifikasi dalil hukumnya. Itu namanya kamu berusaha naik tingkat dari seorang muqallid, yang hanya taklid alias ikut pendapat tanpa tahu dalil, lalu naik menjadi muttabi’. Ittiba’ itu ikut pendapat dalam satu masalah hukum diikuti dengan pengetahuan akan dalil yang digunakan. Beda dengan seorang mujtahid yang mampu menyimpulkan suatu hukum dari dalil-dalilnya” (more…)

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.