Weh, opo iki..? Saya sempat berpikir, tak perlu menunggu suatu momen untuk melakukan perubahan, kita selalu menemukan momen tersebut. Perubahan adalah pasti. Perubahan dari ketiadaan menuju ada bagi kita dan seluruh alam adalah setiap saat. Seiring berjalannya waktu, perubahan tersebut terus terjadi. Hanya saja, kadang kita tak sadar akan hal itu karena terkadang indera hanya melihat hal yang sama tak berubah. Kesadaran bahwa segala yang mungkin adalah mungkin dan sesuatu berubah dari satu kemungkinan yang telah terjadi menuju kemungkinan lainnya akan membawa kita ke dalam dunia yang indah. he2, apa ya?
Teologi Asy’ariyah mengajarkan bahwa alam ini bersifat hadits alias baru, artinya ia ada setelah tiada. Kebaruan ini tidaklah dalam satu momen, tetapi terus terjadi. Alam terdiri atas a’radh (sifat-sifat yang bersifat baru), seperti berbagai warna, gerak dan diam, dan juga ajram (jirim, atau dzat). Kedua a’radh dan ajram adalah hal yang baru/huduts, ada setelah tiada, secara atomistik. Kebaruan terjadi terus menerus setiap waktu. Warna putih dinding 2 menit yang lalu adalah bukan putih yang sekarang. Setiap saat, kemungkinan putih tetap ada atau tidak ada adalah mungkin, dan faktanya putih yang lalu telah tiada dan digantikan yang baru. Kebaruan putih dari yang satu ke lainnya membuat indera menganggapnya sama dan tidak berubah, padahal tidak demikian.
Sulit dipahami ya? Datang dan diskusikan hal ini di kelas Awwaliyah I Madrasah LQ tiap hari Kamis dan Sabtu Sore. Atau, simak terus tulisan di blog ini. (weh, promosi.. “yo ga papa, ditulis kan untuk dibaca”, tapi bagaimana jika kalau yang ditulis tidak layak atau tidak menarik tuk dibaca? “Biarkan saja! Subyektif kan? Bagaimana bisa komentar kalau tidak baca?”