Kang IR [ Individual Reviews ]

November 23, 2009

Jumatan di Hari Raya

Filed under: Islamiyyat — irfanantono @ 1:15 pm
Tags: , , , ,

Seorang teman yang baik bertanya kepada Kang Ja’far, “Kang, gimana hukumnya shalat Jumat jika bersamaan dengan hari ied? Dengar-dengar, katanya shalat jumat boleh ditinggal jika kita udah shalat ied. Malah, ada yang bilang gak wajib shalat jumat, dan juga gak perlu shalat dzuhur. Gimana Kang ?”

Kang Ja’far bertanya, “Siapa yang bilang seperti itu? Dia sampaikan landasannya gak? Jangan asal ceplos, alias waton muni.”

“Ya, saya juga nuntut dalilnya, Kang. Saya kan juga ingin tahu. Karena itu, saya tanya ama sampean.” Balas si teman.

“Kamu benar, karena kamu mencoba untuk mengklarifikasi dalil hukumnya. Itu namanya kamu berusaha naik tingkat dari seorang muqallid, yang hanya taklid alias ikut pendapat tanpa tahu dalil, lalu naik menjadi muttabi’. Ittiba’ itu ikut pendapat dalam satu masalah hukum diikuti dengan pengetahuan akan dalil yang digunakan. Beda dengan seorang mujtahid yang mampu menyimpulkan suatu hukum dari dalil-dalilnya” (more…)

November 17, 2009

Nahwu Aliran Mesir (Tokoh-Tokoh)

Filed under: Adabiyyat, Lughawiyyat, bahasa — irfanantono @ 8:20 am
Tags: , ,

Aktivitas keilmuan khususnya disiplin ilmu nahwu di Mesir telah muncul dan berkembang sejak masa-masa awal muncul dan berkembangnya nahwu secara umum. Dorongan untuk menjaga bacaan Al-Quran secara benar menjadi faktor utama berkembangnya nahwu di negeri Firaun ini.

Pada masa awal, telah ada pengikut Abul Aswad yang mengajar disana, yaitu Abdurrahman bin Hurmuz (w. 117 H). Beliau inilah yang memberikan tanda titik pada mushaf Al-Quran sebagai tanda I’rab. Beliau juga guru salah seorang dari qurra’ bacaan Al-Quran yang tujuh, yaitu Imam Nafi’ bin Abi Nu’aim di Madinah. Bacaan cara Nafi’ ini kemudian berkembang di Mesir berkat muridnya, yaitu Warasy, seorang penduduk asli Mesir yang bernama lengkap ‘Utsman bin Sa’id.

Nahwu aliran Mesir secara khusus mulai berkibar dengan hadirnya Wallad bin Muhammad At-Tamimi, seorang yang berasal dari Basrah tetapi tumbuh di Fusthath Mesir. Beliau berguru kepada Al-Khalil bin Ahmad di Iraq dan menulis buku hasil pembelajarannya bersama sang penemu ilmu ‘arudh tersebut. (more…)

Nahwu Aliran Andalusia (Tokoh-Tokoh)

Filed under: Adabiyyat, Lughawiyyat, bahasa — irfanantono @ 8:06 am
Tags: , ,

Gairah keilmuan di Andalusia berlangsung selama kekuasaan Bani Umayah di sana dari tahun 137 – 422 H. Ilmu Bahasa Arab berkembang di sana seiring perkembangan keilmuan Al-Quran. Di Cordova dan kota-kota lainnya banyak orang yang mengajarkan dasar-dasar Bahasa Arab melalui kajian teks dan syair. Mayoritas dari mereka adalah para qurra’ yang hidup mengabdi menjaga kemurnian bacaan Al-Quran. Mereka melakukan perjalanan ke timur, belajar bacaan Al-quran dan lain sebagainya, lalu kembali dan mengajar di Andalusia.

Di Andalusia, terdapat seorang dengan nama Abu Musa Al-Hiwari. Az-Zubaidi menyatakan bahwa beliau adalah orang yang pertama kali mengajarkan ilmu fiqih dan Bahasa Arab di Andalusia. Beliau melakukan perjalanan ke timur pada masa pemerintahan Abdurrahman Ad-Dakhil (138 – 172 H) dan belajar kepada Imam Malik, Abu Zaid, Al-Ashmu’i, dan lain sebagainya. Adapun tokoh yang sezaman dengan beliau adalah Al-Ghazi bin Qais. Beliau adalah yang menyebarkan riwayat bacaan Nafi’ bin Abi Nua’im di Cordova.

Tokoh nahwu di Andalusia pertama kali adalah Judiy bin ‘Utsman Al-Maururi (w. 198 H). Beliau belajar nahwu dari Al-Kisa’i dan Al-Farra’. Tokoh yang sezaman dengan beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah, seorang yang menyebarkan bacaan Warasy, ‘Utsman bin Sa’id Al-Mishriy, di Andalusia.

Pada abad ketiga hijriyah banyak bermunculan tokoh qiraat dan juga sastrawan, diantaranya adalah Abdul Malik bin Habib As-Sulamiy (w. 238 H). Beliau adalah seorang ahli fiqih, hadits, nahwu, dan bahasa. Diantara karangan beliau adalah tentang I’rab al-Quran. Tokoh lainnya yang sezaman dengan beliau adalah (more…)

Nahwu Aliran Baghdad (Tokoh-Tokoh)

Filed under: Adabiyyat, Lughawiyyat, bahasa — irfanantono @ 7:46 am
Tags: , , , ,

Pada abad keempat hijriyah para ahli nahwu Baghdad memunculkan metode baru dalam ilmu nahwu, yaitu dengan memilih yang terbaik dari kedua pendapat aliran nahwu yang telah ada, Basrah dan Kufah. Hal ini bermula ketika mereka belajar nahwu kepada dua tokoh yang berbeda aliran, yaitu Tsa’lab dan Al-Mubarrad kemudian mulai mempertemukan kedua aliran tersebut hingga memunculkan aliran baru yang dapat dibedakan dari keduanya.

Munculnya aliran tersendiri ini sempat membuat bingung para penulis biografi para ahli nahwu. Hal ini disebabkan karena ahli nahwu aliran baghdad ini ada yang condong kepada aliran Basrah dan ada pula yang lebih condong kepada aliran Kufah. Oleh karenanya, ada yang menggolongkan sebagian dari mereka ke dalam aliran Kufah, Basrah, dan ada pula yang menggolongkannya dalam kelompok aliran tersendiri.

Para pakar kontemporer bahkan berusaha menafikan aliran Baghdad ini dengan alasan bahwa dua orang pembesar aliran ini, yaitu Abu Ali Al-Farisi dan Ibn Jinni menisbatkan diri mereka sendiri ke dalam aliran Basrah.

Generasi awal aliran Baghdad ini memang cenderung kepada pendapat aliran Kufah. Oleh karenanya, mereka kadang disebut sebagai pengikut Kufah dan kadang pula disebut sebagai pengikut aliran Baghdad. Tokoh terpenting dari (more…)

September 9, 2009

Dah Pulang, Nak ? (catatan post-KKN)

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 12:45 am

Owh, kamu dah balik to Nak?

Iya nih..

Dapat apa di sana?

banyak..

Ada yang hilang?

Ada, aku kehilangan dirimu, lama sekali ku tak pegang dirimu, rasanya ingin sekali ku muntahkan seluruhnya untukmu.. Tapi, kini ku telah kembali padamu, ku harap kau membantuku menuntaskan segalanya.. Hingga akan muncul kembali buah dari hasrat yang ada.. Semoga saja..

June 23, 2009

Cukur Batik ala Ahmad Dhani

Filed under: Reaksi — irfanantono @ 11:16 pm
Tags: , , , ,

ahmad-dhani (image dr Detiknews.com)Seorang teman yang berprofesi sebagai tukang cukur alias potong rambut bercerita padaku bahwa banyak pelanggan yang meminta untuk potong rambut gaya batik ala Ahmad Dhani, pentolan Dewa 19. Gaya rambut yang dimaksud adalah potongan rambut dengan panjang satu sentimeter dan sentuhan ala  ‘membatik’, gimana ya, seperti tampak dalam gambar lah.

Akhirnya, saya pun meminta teman saya ini untuk melakukannya pada rambut saya. Jawabnya, “Wah Kang, aku ra tega, mosok sampeyan cah pondok kok potongane koyok ngono.” (Wah Kang, saya enggak berani, anda kan santri pondok kok potongan rambutnya seperti itu)

“Lho kamu kok tega terhadap orang lain tapi kok tak tega kepada anak pondok ? Harusnya kamu tuh kan bersikap profesional, tidak pandang bulu, kalau satu pelanggan meminta A ya dikasih A dong ! Betul tidak?” Ujarku. (more…)

May 26, 2009

Ayat

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 1:03 pm

Nabi Zakariya berdoa, “Rabbi j’al lii aayah !“. Ayat.. Ayat.. dan Ayat..

Sekian lama kita mengenal kata ini..

May 11, 2009

Hati-hati dengan Nama ALYA

Filed under: Nama — irfanantono @ 8:57 am
Tags: ,

Seorang teman menanyakan kepadaku tentang makna ALYA, sebuah nama. Katanya, nama tersebut diambil dari bahasa Arab. Saya pun akhirnya sedikit melakukan research terhadap hal ini. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Jika ALYA di sini bila dituliskan dengan bahasa Arab adalah ‘AIN + LAM + YA’ + ALIF + HAMZAH, maka arti dasarnya adalah sebuah tempat yang tinggi. Mungkin bisa diharapkan nantinya si empunya nama akan berada di derajat yang tinggi dalam hidupnya.

Jika ALYA di sini adalah penulisan singkat dari ‘ALIYAH, yaitu ‘AIN + ALIF + LAM + YA’ + TA’ Marbuthah, maka artinya adalah seorang wanita  yang mulia. Sebuah harapan yang bagus.

Nah, jika ALYA di sini adalah HAMZAH + LAM + YA’ + ALIF + HAMZAH, maka artinya adalah orang yang besar pantatnya. Nah Loe..

May 9, 2009

Interpreter Being : Aren’t We ?

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 2:03 pm
Tags: , , , , ,

Man is an Interpreter Being, sebuah kalimat yang sangat berpengaruh dalam perubahan di hari-hari inyong saat ini. Bermula dari tugas kuliah berupa makalah dengan tema ‘hermeneutika’, inyong dengan terpaksa harus melahap buku-buku yang berkaitan dengan tema tersebut, mulai dari bukunya Palmer, Thompson, Pak Kaelan, Kinayati, dan juga beberapa jurnal pemikiran Islam. Kalimat tersebut inyong dapatkan dari sebuah kutipan di buku tulisan intelektual muslim kita, Bapak Komarudin Hidayat, yang berjudul Menafsirkan Kehendak Tuhan.

Sebagai manusia, kita memang hidup sebagai makhluk yang berfikir dan berfikir, memahami dan menafsirkan segala macam yang ada melalui media bahasa. Bahasa tak sekedar media komunikasi an sich, ia adalah alat bagaimana kita mentransformasikan dunia dan juga bagaimana dunia mentransformasikan dirinya kepada kita. Oleh karenanya, mungkin definisi manusia memang tak sekedar hewan yang berakal, tapi sama saja ketika dengan pengertian bahwa manusia adalah hewan yang berbicara (hayawan nathiq) yang mana dapat dipahami lebih mendalam dengan artian bahwa ia berbahasa.

Bahwa berbahasa berkaitan erat dengan berfikir, dalam lingkup lebih luas yaitu berbudaya, para pakar sadar bahwa bahasa merupakan titik tolak dan juga bukti kemajuan peradaban dan kebudayaan sebuah bangsa. (more…)

May 7, 2009

Menyambut Pagi ala Santri

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 6:29 am
Tags: , ,

Serasa tak puas setelah berdebat panjang mengenai boleh tidaknya memberontak kepada penguasa tiran, di asrama belakang yang lebih tepatnya disebut komplek pringkayuasbesseng – karena pintu masuknya adalah rumpunan pohon bambu, biliknya berupa rumah panggung dari kayu, dindingnya dari asbes, dan atapnya terbuat dari logam seng – beberapa santri kembali membentuk majlis baru. Kali ini, topik baru diangkat, yaitu menurunnya kesadaran para santri untuk hidup mandiri dan bertanggung jawab. Tema yang cukup urgen ini dilatar belakangi adanya deretan gelas habis pakai yang dibiarkan tak dicuci. Siapa yang bertanggung jawab ?

Hiruk pikuk malam tak dihiraukan sedikitpun. Mereka, seolah tak tahu bahwa malam Jumat ini telah lewat dua pertiganya, dengan suara keras saling membantah satu sama lain membicarakan bagaimana biar para santri kembali kepada khittahnya. Tampaknya, mereka ini memang calon pemerhati santri atau bahkan para calon punya santri. Tentu saja, bagaimana tidak, sebagian mereka adalah putra-putra para kiyai di kampungnya masing-masing dan juga kiyai pesantren. Mereka adalah para santri kritis yang tak hanya introspektif dan kritis terhadap santri tetapi juga pada kiyai dan ulama mereka, para penguasa, masyarakat, dan bahkan juga terhadap kehendak Tuhan mereka. (more…)

Next Page »

Blog at WordPress.com.