Kang IR [ Individual Reviews ]

September 9, 2009

Dah Pulang, Nak ? (catatan post-KKN)

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 12:45 am

Owh, kamu dah balik to Nak?

Iya nih..

Dapat apa di sana?

banyak..

Ada yang hilang?

Ada, aku kehilangan dirimu, lama sekali ku tak pegang dirimu, rasanya ingin sekali ku muntahkan seluruhnya untukmu.. Tapi, kini ku telah kembali padamu, ku harap kau membantuku menuntaskan segalanya.. Hingga akan muncul kembali buah dari hasrat yang ada.. Semoga saja..

June 23, 2009

Cukur Batik ala Ahmad Dhani

Filed under: Reaksi — irfanantono @ 11:16 pm
Tags: , , , ,

ahmad-dhani (image dr Detiknews.com)Seorang teman yang berprofesi sebagai tukang cukur alias potong rambut bercerita padaku bahwa banyak pelanggan yang meminta untuk potong rambut gaya batik ala Ahmad Dhani, pentolan Dewa 19. Gaya rambut yang dimaksud adalah potongan rambut dengan panjang satu sentimeter dan sentuhan ala  ‘membatik’, gimana ya, seperti tampak dalam gambar lah.

Akhirnya, saya pun meminta teman saya ini untuk melakukannya pada rambut saya. Jawabnya, “Wah Kang, aku ra tega, mosok sampeyan cah pondok kok potongane koyok ngono.” (Wah Kang, saya enggak berani, anda kan santri pondok kok potongan rambutnya seperti itu)

“Lho kamu kok tega terhadap orang lain tapi kok tak tega kepada anak pondok ? Harusnya kamu tuh kan bersikap profesional, tidak pandang bulu, kalau satu pelanggan meminta A ya dikasih A dong ! Betul tidak?” Ujarku. (more…)

May 26, 2009

Ayat

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 1:03 pm

Nabi Zakariya berdoa, “Rabbi j’al lii aayah !“. Ayat.. Ayat.. dan Ayat..

Sekian lama kita mengenal kata ini..

May 11, 2009

Hati-hati dengan Nama ALYA

Filed under: Nama — irfanantono @ 8:57 am
Tags: ,

Seorang teman menanyakan kepadaku tentang makna ALYA, sebuah nama. Katanya, nama tersebut diambil dari bahasa Arab. Saya pun akhirnya sedikit melakukan research terhadap hal ini. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Jika ALYA di sini bila dituliskan dengan bahasa Arab adalah ‘AIN + LAM + YA’ + ALIF + HAMZAH, maka arti dasarnya adalah sebuah tempat yang tinggi. Mungkin bisa diharapkan nantinya si empunya nama akan berada di derajat yang tinggi dalam hidupnya.

Jika ALYA di sini adalah penulisan singkat dari ‘ALIYAH, yaitu ‘AIN + ALIF + LAM + YA’ + TA’ Marbuthah, maka artinya adalah seorang wanita  yang mulia. Sebuah harapan yang bagus.

Nah, jika ALYA di sini adalah HAMZAH + LAM + YA’ + ALIF + HAMZAH, maka artinya adalah orang yang besar pantatnya. Nah Loe..

May 9, 2009

Interpreter Being : Aren’t We ?

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 2:03 pm
Tags: , , , , ,

Man is an Interpreter Being, sebuah kalimat yang sangat berpengaruh dalam perubahan di hari-hari inyong saat ini. Bermula dari tugas kuliah berupa makalah dengan tema ‘hermeneutika’, inyong dengan terpaksa harus melahap buku-buku yang berkaitan dengan tema tersebut, mulai dari bukunya Palmer, Thompson, Pak Kaelan, Kinayati, dan juga beberapa jurnal pemikiran Islam. Kalimat tersebut inyong dapatkan dari sebuah kutipan di buku tulisan intelektual muslim kita, Bapak Komarudin Hidayat, yang berjudul Menafsirkan Kehendak Tuhan.

Sebagai manusia, kita memang hidup sebagai makhluk yang berfikir dan berfikir, memahami dan menafsirkan segala macam yang ada melalui media bahasa. Bahasa tak sekedar media komunikasi an sich, ia adalah alat bagaimana kita mentransformasikan dunia dan juga bagaimana dunia mentransformasikan dirinya kepada kita. Oleh karenanya, mungkin definisi manusia memang tak sekedar hewan yang berakal, tapi sama saja ketika dengan pengertian bahwa manusia adalah hewan yang berbicara (hayawan nathiq) yang mana dapat dipahami lebih mendalam dengan artian bahwa ia berbahasa.

Bahwa berbahasa berkaitan erat dengan berfikir, dalam lingkup lebih luas yaitu berbudaya, para pakar sadar bahwa bahasa merupakan titik tolak dan juga bukti kemajuan peradaban dan kebudayaan sebuah bangsa. (more…)

May 7, 2009

Menyambut Pagi ala Santri

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 6:29 am
Tags: , ,

Serasa tak puas setelah berdebat panjang mengenai boleh tidaknya memberontak kepada penguasa tiran, di asrama belakang yang lebih tepatnya disebut komplek pringkayuasbesseng – karena pintu masuknya adalah rumpunan pohon bambu, biliknya berupa rumah panggung dari kayu, dindingnya dari asbes, dan atapnya terbuat dari logam seng – beberapa santri kembali membentuk majlis baru. Kali ini, topik baru diangkat, yaitu menurunnya kesadaran para santri untuk hidup mandiri dan bertanggung jawab. Tema yang cukup urgen ini dilatar belakangi adanya deretan gelas habis pakai yang dibiarkan tak dicuci. Siapa yang bertanggung jawab ?

Hiruk pikuk malam tak dihiraukan sedikitpun. Mereka, seolah tak tahu bahwa malam Jumat ini telah lewat dua pertiganya, dengan suara keras saling membantah satu sama lain membicarakan bagaimana biar para santri kembali kepada khittahnya. Tampaknya, mereka ini memang calon pemerhati santri atau bahkan para calon punya santri. Tentu saja, bagaimana tidak, sebagian mereka adalah putra-putra para kiyai di kampungnya masing-masing dan juga kiyai pesantren. Mereka adalah para santri kritis yang tak hanya introspektif dan kritis terhadap santri tetapi juga pada kiyai dan ulama mereka, para penguasa, masyarakat, dan bahkan juga terhadap kehendak Tuhan mereka. (more…)

May 1, 2009

ISBKK : IkUtan Santri Bughat Kitab Kuning

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 8:22 am
Tags: , , , , , ,

Inilah Sabu-sabu ala Pondok Kalangan, bukan sejenis narkoba, tapi kependekan dari Santri Bughat-Santri Bughat, yang bisa dianggap sebagai bakal organisasi baru di sana, Ikutan Santri Bughat Kitab Kuning (ISBKK). Istilah Bughat cukup akrab di telinga para pengkaji kitab kuning, didefinisikan sebagai segolongan muslim yang melakukan pembangkangan dan pemberontakan kepada Imam atau pimpinan yang sah. Dalam fiqih klasik sebagaimana di kebanyakan kitab kuning kelompok muslim ini boleh untuk diperangi apabila tidak lagi mau mendengar seruan berhenti dai pemberontakan.

Menggugat Tradisi, Iya, itulah yang kelihatannya terus berlanjut di otak beberapa santri peninggalan Pak Wir. Ketika santri umumnya berkumpul di Masjid membaca senandung Maulid Rasul yang rutin diadakan malam Jumat, sejumlah santri tua justru mengasingkan diri di kelas paling utara membentuk halaqah asap rokok, menghadap setumpuk kitab kuning dan putih, bahkan laptop, sambil sesekali nyruput kopi. Ketika santri umumnya menyuarakan bacaan shalawat dengan semangatnya, seorang santri di kelas pojok justru melontarkan makian GOBLOG atas tulisan pendapat seseorang yang ia temui di screen laptopnya. (more…)

April 7, 2009

Dari, dan Untuk Tanah Kelahiran

Filed under: Reaksi — irfanantono @ 11:30 pm
Tags: , , , , , ,

Bermimpi..Cinta tanah air adalah sebagian dari Iman, atau dalam bahasa matan aslinya adalah “hubbul wathon minal Imaan”, merupakan satu hadits yang cukup terkenal. Namun, hadits tersebut dianggap lemah menurut sebagian Ulama, bahkan menurut As-Suyuthi hadits ini tidak berdasar.

Dalam kesempatan ini, saya tak sedang ingin bercerita tentang derajat suatu hadits, hal ini biar nanti digarap Kang Alwi ELQI. Saya hanya ingin sedikit mengungkapkan satu opini tentang tanah kelahiran.

Dalam sebuah dialog tentang tanah kelahiran, di akhir pembicaraan saya mengungkapkan bahwa rasanya tak adil jika saya yang telah dikirim oleh orang tua untuk ngudi ngelmu di tempat yang jauh dengan harapan menjadi orang yang bermanfaat kemudian tidak lagi kembali ke tanah asal untuk berbagi manfaat di sana. Rasanya tak adil jika terus jauh dari orang tua yang selama sekian tahun menunaikan kewajiban mereka kepada kita demi menikahi seseorang yang baru saja dikenal dalam beberapa bulan. Benar saja pernyataan bahwa orang yang beruntung adalah yang mendapatkan keutamaan rizki dan juga jodoh di tanah kelahirannya. Dalam benak hati tersimpan asa bahwa nanti ku kan kembali pulang ke kampung halaman, mencintai dan memberi sesuatu kepadanya sebagaimana ia telah banyak pula memberi. Namun, apa yang kan diperbuat cinta yang lain ?

Segala sesuatu telah ditentukan Tuhan, kita tinggal menjalaninya sesuai skenario-Nya. Untunglah kita tak tahu taqdir kita sehingga kita dapat ‘mencari’ taqdir kita sesuai dengan petunjuk-Nya.

Ya Allah.. begitu lembut kuasa-Mu.. Semoga kita terus dapat berusaha dan tawakkal.. Semoga selalu di jalan yang benar..

April 1, 2009

Ash’aria on Atom of The Changes (1)

Filed under: Islamiyyat — irfanantono @ 8:14 am
Tags: , , ,

Weh, opo iki..? Saya sempat berpikir, tak perlu menunggu suatu momen untuk melakukan perubahan, kita selalu menemukan momen tersebut. Perubahan adalah pasti. Perubahan dari ketiadaan menuju ada bagi kita dan seluruh alam adalah setiap saat. Seiring berjalannya waktu, perubahan tersebut terus terjadi. Hanya saja, kadang kita tak sadar akan hal itu karena terkadang indera hanya melihat hal yang sama tak berubah. Kesadaran bahwa segala yang mungkin adalah mungkin dan sesuatu berubah dari satu kemungkinan yang telah terjadi menuju kemungkinan lainnya akan membawa kita ke dalam dunia yang indah. he2, apa ya?

Teologi Asy’ariyah mengajarkan bahwa alam ini bersifat hadits alias baru, artinya ia ada setelah tiada. Kebaruan ini tidaklah dalam satu momen, tetapi terus terjadi. Alam terdiri atas a’radh (sifat-sifat yang bersifat baru), seperti berbagai warna, gerak dan diam, dan juga ajram (jirim, atau dzat). Kedua a’radh dan ajram adalah hal yang baru/huduts, ada setelah tiada, secara atomistik. Kebaruan terjadi terus menerus setiap waktu. Warna putih dinding 2 menit yang lalu adalah bukan putih yang sekarang. Setiap saat, kemungkinan putih tetap ada atau tidak ada adalah mungkin, dan faktanya putih yang lalu telah tiada dan digantikan yang baru. Kebaruan putih dari yang satu ke lainnya membuat indera menganggapnya sama dan tidak berubah, padahal tidak demikian.

Sulit dipahami ya? Datang dan diskusikan hal ini di kelas Awwaliyah I Madrasah LQ tiap hari Kamis dan Sabtu Sore. Atau, simak terus tulisan di blog ini. (weh, promosi.. “yo ga papa, ditulis kan untuk dibaca”, tapi bagaimana jika kalau yang ditulis tidak layak atau tidak menarik tuk dibaca? “Biarkan saja! Subyektif kan? Bagaimana bisa komentar kalau tidak baca?”

KEtika MUsibah jaDI tontonAN

Filed under: Refleksi — irfanantono @ 7:15 am
Tags: , , , ,

Refleksi Bencana.. (The Last : Bencana Situ Gintung Tangerang, Galodo (Banjir Bandang)  di Sumatera)

image dr bawean.netRasa keingin-tahuan seseorang mendorong dirinya untuk memanfaatkan alat inderanya untuk  bekerja. Tak cukup hanya mendengar dan melihat dari berita TV atau media lainnya, langkah kakinya serasa tak tertahankan untuk segera mendatangi lokasi kejadian guna mengindera secara langsung. Ya, kita bisa menyaksikan fenomena alam berupa bencana yang memakan korban dengan jalan mendatanginya. Selain itu, jika kita coba menganalisa maka kita juga akan dapat menyaksikan fenomena alam lainnya berupa bencana yang menjadi magnet bagi orang-orang untuk mendatanginya. Sebagian datang untuk mencari sanak keluarga ataupun saudaranya yang tinggal di daerah bencana, sebagian datang karena ia berwenang, sebagian datang untuk meliput, sebagian datang untuk membantu dengan tulus, sebagian datang membantu sekaligus memperkenalkan diri berkampanye, dan sebagian lagi datang untuk sekedar melihat-lihat.

Saya teringat betul ketika musibah gempa bumi melanda Bantul dan sekitarnya pada akhir Mei 2006, di suatu tempat di lokasi bencana yang parah terdapat tulisan “KAMI BUKAN TONTONAN ! KAMI BUTUH BANTUAN !”. (more…)

Next Page »

Blog at WordPress.com.